(Bukan) Penyuka Anak-Anak

Standard

Image

Saya tidak suka anak kecil. Bukan benci, hanya tidak tertarik saja.

Tapi anehnya, sepertinya hidup saya banyak bergelut di sekitar mereka, terutama dalam pendidikan. Waktu masih duduk di bangku SMP, saya harus jadi panitia Pekan Imunisasi Nasional (Orde Baru banget nggak sih bahasanya?) yang artinya saya menghabiskan waktu seminggu dikelilingi balita-balita yang menjerit, menangis, merangkak dan tertawa lebar. Sounds cute for some people, but not for me. Pengalaman dengan anak-anak terus menghantui saya di SMA (siapa yang cerdas banget buat posyandu jadi kegiatan OSIS??), waktu kuliah (emang nggak bisa nolak duit walau itu berarti harus nyanyi-nyanyi aneh ngajarin Bahasa Inggris ke bayi-bayi Jepang, yes bayi-bayi!), sampai… kemarin 20 Februari 2013.

 

Saya. Volunteer. Suka Rela. Jadi Guru SD. Di Kelas Inspirasi. Selama 4 Jam Pelajaran.

Jujur, saya sendiri kaget dengan keputusan untuk mendaftar untuk ikut Kelas Inspirasi. Informasi akan Kelas Inspirasi saya tahu dari Kakak saya yang mengupload lowongan ini di halaman SNS Path. Proses daftar nya hanya makan waktu 10 menit dengan mengisi formulir dan menulis essay tentang kenapa mau jadi volunteer.

Kenapa mau jadi volunteer?

Karena waktu saya kecil, kurang terinspirasi. Lulus SD pun belum punya cita-cita konkrit. SMP dan SMA alasan belajar dan melanjutkan pendidikan pun hanya karena that was the right thing to do, that was what my parents did when they were my age. Cita-cita saya datang belakangan, terinspirasi dari teman-teman seangkatan. Padahal, semakin dini cita-cita terbentuk, semakin awal pula kita bisa merencanakan langkah-langkah untuk mencapainya.

Karena saya percaya pada kata-kata “dream big”. Gantungkan cita-cita setinggi langit! Soalnya kalaupun meleset, jatuhnya masih di antara awan juga… Coba bayangkan kalau semua siswa SD se Indonesia punya cita-cita yang tinggi, betapa hebatnya masa depan Indonesia ini.

Karena kita sering lupa melihat proses yang seseorang lewati untuk mencapai keadaan saat ini. Keberhasilan itu tidak ada yang instan, harus ada determinasi, clear goal dan goodwill dalam proses pencapaiannya. Dari kecil kita harus sudah tahu bahwa keadaan Buruk atau Baik adalah hasil dari tindakan kita di masa lalu. Bahwa keberhasilan tidak hanya bertolak ukur pada materi dan jabatan, tapi juga kejujuran, kerja keras dan kemauan kita saat berproses. Jangan sampai saat kita mengingat proses yang sudah ditempuh, yang teringat itu kecurangan, kejahatan, keegoisan yang kita lakukan demi mencapai suatu tujuan. Masa lalu adalah tempat paling jauh, belum ada mesin yang bisa bawa kita ke sana.

Jadi saya daftar Kelas Inspirasi. Dan. Diterima.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s