Student’s Voice on Indonesia-Japan Relation

Standard

Hubungan Diplomatik Indonesia-Jepang

Oleh: Dhaniswari Ananta Ayu – 120810373

 

53 tahun sudah Indonesia dan Jepang menjalin hubungan diplomatis dan dari berbagai bentuk kerjasama tersebut terdapat beberapa peluang bidang kerjasama yang bermanfaat. Tak dapat dipungkiri bahwa pada awalnya belum terjalin hubungan kerjasama yang baik. Namun, semenjak 15 April 1958 terjalinlah hubungan kerjasama, Jepang mulai memberikan bantuan kepada Indonesia dari berbagai sektor bidang melalui pampasan.

Kini hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jepang telah mencapai usia lebih dari setengah abad, dan salah satu bidang kerjasama yang bermanfaat bagi kedua negara ialah kerjasama di bidang pendidikan dan kebudayaan. Mengapa pendidikan dan kebudayaan membawa pengaruh yang bermanfaat bagi kedua negara tersebut?

Seperti yang kita ketahui, kedua negara tersebut sudah banyak melakukan pertukaran mahasiswa guna saling mempelajari kebudayaan masing-masing. Jepang juga banyak memberikan peluang beasiswa bagi pelajar Indonesia yang berhasil lulus seleksi untuk belajar di negeri Sakura. Saat ini sekitar 1.000 orang Indonesia tengah belajar di Jepang untuk mengikuti pendidikan sarjana, master, dan doktor. Sebaliknya, banyak pula warga Jepang yang belajar di berbagai lembaga pendidikan Indonesia, terutama di bidang seni dan budaya (Seputar Indonesia, 21/1).

Apabila dilihat dari sudut pandang negara Indonesia, Jepang memiliki potensi serta kualitas. Perkembangan pendidikan serta teknologi Jepang pun bisa dikatakan bersaing dengan negara-negara di Eropa dan Amerika. Indonesia sebagai negara berkembang dituntut untuk banyak belajar terutama pada salah satu negara di Asia yang sudah maju.

 

Di Jepang sendiri tercatat 26 institusi atau universitas yang menyelenggarakan program-program pengenalan Indonesia. Contohnya pada Program Studi Indonesia Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), sebuah universitas berbadan hukum milik negara yang terdepan dalam penyelenggaraan studi Indonesia di Jepang. Tiap tahun, dalam festival besar Gaigosaidi kampus, mahasiswa dan pengajar program studi itu berjuang memperkenalkan Indonesia kepada warga Jepang dalam wujud pementasan karya budaya, seperti drama, tari, dan masakan Indonesia. Mereka pun tak segan mengadakan aksi sosial, bahkan turun ke jalan, untuk menggalang dana bantuan bagi para korban bencana alam di Indonesia, seperti saat tsunami Aceh 2004 dan gempa bumi Jawa Tengah 2006 (Kompas, 4/11).

Sebetulnya masih banyak produk budaya yang dapat digunakan sebagai media pendekatan kultural untuk meningkatkan pengenalan akan budaya Indonesia dan Jepang. Kemitraan strategis antara Indonesia dan Jepang amat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan terhadap berbagai macam ancaman modern yang dianggap dapat menggoyahkan stabilitas keamanan kedua negara. Oleh karena itu, saat ini harus melakukan banyak pertukaran generasi muda guna memahami kebudayaan masing-masing negara. Dengan demikian akan timbul suatu pemahaman mengenai pentingnya kerja sama demi masa depan bersama.

Akan tetapi, selain hubungan kerjasama yang bermanfaat, terdapat kerjasama yang mendapatkan kritik dari berbagai pihak. Dalam bidang perdagangan, Indonesia yang berlimpah dengan sumber daya alam merupakan mitra yang penting bagi kebutuhan suplai bahan bakar Jepang sebagai negara dagang terbesar di Asia. Jepang banyak mengekspor berbagai teknologi ke Indonesia, sementara Indonesia mengekspor bahan bakar berupa gas alam, dan berbagai sumber daya alam lainnya.

Indonesia merupakan jalur perdagangan yang vital bagi Jepang, mengingat hampir sebagian besar kebutuhan akan bahan bakar melewati jalur Indonesia. Akan tetapi, apabila sumber daya alam Indonesia sudah tidak mampu untuk mensuplai bahan bakar yang dibutuhkan, apakah Jepang akan menemukan solusi untuk meremajakan kembali SDA di Indonesia sebagai tanggung jawab bersama agar tidak terjadi pola untung-rugi? Lalu, apakah tidak dipersiapkan alternatif lain untuk mengantisipasi dampak kesepakatan lingkungan dan perkembangan ekonomi energi kawasan? Mungkin pembangkit listrik tenaga nuklir dan mengarahkan pada pengembangan industri yang lebih hemat energi di Jepang atau Indonesia mulai melakukan penekanan untuk arus ekspor dapat menjadi solusi guna mengantisipasi permasalahan di atas.

Selain itu, Jepang menduduki peringkat pertama dalam jumlah akumulasi investasi terhadap Indonesia sehingga jumlah perusahaan Jepang di Indonesiapun kian bertambah. Tak dapat dipungkiri bahwa Jepang tampak lebih dominan sehingga Indonesia serasa lebih menjadi pihak yang dirugikan. Dalam kasus removal, atau peniadaan hambatan perdagangan berarti perluasan perdagangan yang biasanya dilakukan oleh para pihak yang bersangkutan, menggerakkan konsumen dari negara yang mengimpor barang dan jasa secara lebih murah. Di pihak produsen, negara pengekspor memperoleh laba dari hasil ekspor yang lebih besar, dan secara teoritik kemakmuran kedua negara yang mengadakan FTA – Free Trade Agreement (yang masih terdapat dalam kerangka IJEPA) akan membaik (Antara, 12/4).

 

Investasi otomotif Jepang di Indonesia terus melonjak.

Akan tetapi didapati dampak buruk yang terjadi dari realita yang ada, banyaknya industri Jepang di Indonesia membawa dampak yang kurang baik bagi polusi udara, air maupun suara. Asap kendaraan dari industri otomotifpun kurang ada yang menyadari bahwa apa yang menjadi keuntungan dari negara Jepang pada akhirnya menjadi sandungan bagi negeri kita. Daya konsumtif untuk membeli produk negeripun terasa berkurang, kita jauh lebih percaya pada produk ‘sony’ daripada karya anak bangsa. Memang industri termasuk dalam salah satu daftar yang memuat enam kategori program dan proyek tempat dana pampasan digunakan, akan tetapi dengan diawali dengan belajar dari teknologi Jepang, sekiranya Indonesia pun sudah seharusnya mampu untuk bertindak lebih bijak dalam penangan sektor industri dan perdagangan.

Kemitraan strategis antara Indonesia dan Jepang amat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan terhadap berbagai macam ancaman modern yang dianggap dapat menggoyahkan stabilitas keamanan kedua negara tersebut. Ancaman itu antara lain berupa isu lokal maupun global seperti bencana alam, flu burung, terorisme, radiasi nuklir dan bahaya kejahatan lintas negara. Hingga saat ini Indonesia dan Jepang terus berupaya untuk menangani isu-isu global tersebut.

Hubungan antara Jepang dan Indonesia dapat diarahkan dan ditingkatkan pada bidang-bidang hubungan kerjasama yang bermanfaat. Secara internal, pemahaman akan budaya masing-masing amat diperlukan guna menyatukan hati dan mengetahui pola pemikiran dari kedua negara. Contoh konkret dari kerja sama tersebut dapat dilihat bagaimana perdana menteri Jepang turut serta menghadiri KTT ASEAN, Bali Democracy Forum dan lain sebagainya.  Dengan adanya interaksi yang terjalin diharapkan dapat membuka peluang kerja sama yang makin luas untuk memaknai kemitraan strategis Indonesia-Jepang.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Seputar Indonesia. Edisi 21 Januari 2008

http://www.kompas.com, Edisi 4 November 2008

Antara News, Edisi 12 April 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s