ODA Jepang ke Indonesia

Standard

Ayu Nazria Tanjung

NIM. 120810372

TUGAS ESAI NIHON KANKEI SHI :

ODA Jepang ke Indonesia

 

Program ODA (Official Development Assistance) adalah Pinjaman dari negara-negara maju yang tergabung dalam Development Assistant Committee (DAC) of the Organization of Economic Cooperation and Development ke negara-negara berkembang.

Berdasarkan catatan Masashi Nishihara (th. 1976), terdapat tiga alasan utama atas bantuan ODA Jepang ke Indonesia yakni karena Indonesia kaya akan sumber daya alam, Indonesia mempunyai potensi pasar ekspor, lokasi Indonesia penting secara geopolitik. Alasan lain yang juga melatar-belakangi pemberian bantuan ODA Jepang ke Indonesia, antara lain :

  1. Untuk merehabilitasi citra buruk Jepang. Hal ini berkaitan dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia selama 3,5 tahun. Atas tindakan kejam Jepang pada masa itu, Indonesia merasakan pengalaman pahit yang rasanya nyaris setara dengan penderitaan masa pendudukan Belanda selama 3,5 abad.
  2. Bidang politik : agar pasokan SDA ke Jepang lancar,
  3. Bidang ekonomi  : Indonesia mempunyai potensi untuk kegiatan perdagangan Jepang. Berkaitan dengan perdagangan antara Jepang dan Indonesia, Jepang pernah mengalami defisit (kekurangan anggaran belanja) karena Jepang mengimpor begitu banyak barang dari Indonesia.

 

Berdasarkan alasan-alasan ini, pantaslah apabila Indonesia menjadi penerima investasi langsung terbesar dari Jepang yakni 24,8% antara tahun 1967 hingga 1990.

Jepang terus berusaha agar dapat menjalin hubungan yang baik dengan Indonesia. Adapun upaya yang dilakukan Jepang yakni pada tahun 1966, Jepang memprakarsai pembentukan IGGI atau Inter-Governmental Group on Indonesia  (sekarang dikenal CGI atau Consultative Group on Indonesia). Kemudian pada bulan April 1966, Jepang mensponsori Konferensi Menteri Asia Tenggara dalam Pembangunan Ekonomi atau dikenal luas dengan istilah Southeast Asian Ministerial Conference on Economic Development (Bahri, 2004).

Bantuan ODA Jepang ke Indonesia memberi kontribusi besar dalam dua bidang utama yakni pengembangan sumber daya manusia (bantuan penerimaan trainee pada tahun 1954) dan Pembangunan infrastruktur sosial ekonomi (tahun 1977 saat krisis Asia dan tahun 2004 saat gempa besar & tsunami di pulau Sumatera).

Berikut sejarah dan bentuk bantuan ODA Jepang ke Indonesia :

  • Pada th.1954 : penerimaan trainee untuk mendapatkan pelatihan di bidang industri, komunikasi, transportasi, pertanian dan kesehatan,
  • Pada Agustus 1997 (krisis ekonomi Asia) : pinjaman khusus, perpanjangan kewajiban pembayaran, dukungan strategi pemerintah, dan lain-lain,
  • Pada Desember 2004 (gempa & tsunami di Sumatera) : Jepang menyediakan dana rekonstruksi dan rehabilitasi untuk korban bencana sebesar 640 juta dolar Amerika.

Total kumulatif bantuan ODA hingga th. 2006 adalah 29,5 milyar dolar AS sehingga menjadikan Jepang sebagai negara donor terbesar Indonesia (Burhani, 2011).

Bantuan ODA Jepang ke Indonesia ada tiga bentuk, antara lain :

  1. Pinjaman Yen melalui Japan Bank for International Cooperation (JBIC). Bantuan ini bersifat jangka panjang dan dikenai bunga yang rendah,
  1. Bantuan  Dana Hibah (tidak wajib untuk dibayar),
  2. Kerja sama Teknik dilaksanakan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Biasanya berupa bantuan pelatihan sumber daya manusia di berbagai sektor misal sektor kesehatan ibu dan anak, sektor siaran, sektor pemerintah, penegakan hukum dan masyarakat kota.

Bantuan – bantuan ODA terbagi dalam beberapa sektor, sebagai berikut :

  1. Bidang energi (listrik)

Berupa meningkatkan kapasitas daya dan kepercayaan di Jawa dan Bali (dengan cara pembenahan kabel aliran utama dari PLTA) , serta pengembangan bahan baku listrik yang semburan gas panasnya (CO2, dll) lebih sedikit.

  1. Bidang Pemerintah & Masyarakat Kota
  • Pada th. 2000, kepolisian dipisahkan dari TNI.
  • Pada th.2001, Program Reformasi Kepolisian misal adanya sistim Koban.
  • Pada th.2002, mulai diadakan program “Pendidikan SDM pada Pemda”.
  • Pada th. 2007, program pembangunan wilayah Indonesia timur di pulau Sulawesi.
  1. Bidang Kesehatan Ibu & Anak

Th. 1989, melalui JICA, Jepang telah merealisasikan “Proyek Keluarga Berencana dan Kesehatan Ibu dan Anak”.

  1. Bidang Penanggulangan Bencana
  • Rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh dan Nias senilai US$.6,4 Milyar
  • Penataan Badan Penanggulangan Bencana, pemasangan sistim peringatan dini tsunami, peningkatan standar kualifikasi tahan gempa, penanganan banjir, longsor dan pasir.
  • Bantuan Sabo, misal membangun “Pusat Tehnologi Pengendalian Pasir Gunung Berapi” di Jogjakarta.
  1. Bidang Pertanian

Berupa pembenahan sistim irigasi, antara lain :

  • Th. 1970, proyek perbaikan irigasi di delta sungai Brantas di propinsi Jawa Timur
  • Th.1971, proyek kanalisasi sungai Ular di propinsi Sumatera Utara
  • Th.1973, proyek Wai Jepara di propinsi Lampung
  • Th. 1980, proyek irigasi di Riau Kanan
  • Th.1984, proyek irigasi di propinsi Kalimantan Selatan
  • Th.1985, proyek irigasi Langkeme di propinsi Sulawesi Selatan
  • Th.1989, proyek kontrol irigasi skala kecil di propinsi Nusa Tenggara Timur
  • Bidang siaran : membangun jaringan siaran radio dan televisi, mendidik SDM yang akan bekerja di berbagai studio dengan mendirikan dan mengelola Multi Media Training Center (MMTC : Jogjakarta).
  • Bidang Komunikasi : Kurang lebih 50% dari jaringan telekomunikasi di Indonesia dibangun atas bantuan dari Jepang.
  • Pembenahan jalur transportasi di kota-kota utama yakni proyek lama seperti jalan layang semanggi yang menjadi lambang kota Jakarta, jalan tol Merak, jalan tol Jagorawi yang menuju ke Bogor, pembenahan jaringan kereta api Jabotabek, peninggian stasiun Gambir sebagai terminal kereta api jarak jauh.
  • Proyek kereta bawah tanah pertama di Indonesia, yaitu “Proyek MRT Jakarta
  • Pembangunan jalan akses ke pelabuhan Tanjung Priok, Renovasi pelabuhan Tanjung Priok dan perbaikan jalan sekitar kawasan industri.
  • Pembenahan bandara udara, antara lain “Bandara Surabaya”,“Bandara Palembang”, “Bandara Padang”, “Bandara Balikpapan”, “Bandara Internasional Bali” (http://www.id.emb-japan.go.jp/oda/id/whatisoda_01.htm).
  1. Bidang Siaran & Komunikasi
  1. Bidang Transportasi

 

Selain berbagai bantuan dalam beraneka-ragam sektor, ODA Jepang juga pernah memberikan bantuan berupa utang najis. Istilah utang najis ini digunakan karena bantuan ditujukan untuk mendukung pengembangan diktator Asia seperti Pemerintah Marcos di Filipina dan Soeharto di Indonesia (bantuan diberikan mulai tahun 1966). Terungkap kasus hilangnya pinjaman dari Bank Dunia sebesar 8 – 10 milyar dolar pasca keruntuhan pemerintahan Soeharto. Pinjaman dari Bank Dunia yang tidak jelas digunakan oleh siapa dan untuk siapa ini selanjutnya menjadi utang eksternal Indonesia. Pada tahun 1998, majalah “Fortune” melaporkan bahwa total aset keluarga Soeharto adalah 40 milyar dolar. Jumlah aset keluarga Soeharto ini senilai dengan satu perempat utang ekternal Indonesia (Reiko, 2005). Hutang dalam jumlah besar ini menimbulkan permasalahan misal kelaparan, wabah penyakit dan kemiskinan (Bahri, 2004).

Meskipun Indonesia sebagai penerima terbesar dari semua jenis bantuan ODA Jepang, posisinya tidak dinyatakan sebagai penerima terbesar bantuan hibah Jepang. Hal ini kurang menguntungkan bagi pihak Indonesia karena akan lebih menguntungkan dan tidak membebani apabila Indonesia bukan menjadi penerima investasi langsung terbesar melainkan bantuan hibah terbesar.

Antara periode tahun 1984 hingga 1987, negara yang menduduki posisi sebagai penerima hibah terbesar adalah Bangladesh sedangkan Indonesia menduduki peringkat ke 6 atau 7 atau 8 (Bahri, 2004).

 

DAFTAR PUSTAKA

Burhani, R. (2011, Maret 16). Indonesia Berikan Bantuan 2 Juta Dolar untuk Jepang. Antara News. Diperoleh tanggal 14 september 2011, dari

http://www.antaranews.com/berita/250207/indonesia-berikan-bantuan-2-juta-dolar-untuk-jepang

Dalam Teks : (Burhani, 2011).

 

Bahri, M. (2004, April). International Aid For Development? An Overview Japanese ODA to Indonesia. Makara, Sosial Humaniora VOL. 8 (1), 42-43.

Retrieved September 15, 2011, from

http://journal.ui.ac.id/upload/artikel/06_International%20Aid_MMosadeq.pdf

Dalam Teks : (Bahri, 2004).

 

Reiko, I. (2005). High Rate of Loan in Japanese ODA and Debt. The Reality of Aid Asia-Pacific 2005 (pp. 38). Diperoleh tanggal 16 september 2011, dari

http://www.realityofaid.org/userfiles/roareports/roareport_b1af02104e.pdf

Dalam teks : (Reiko, 2005).

 

http://www.id.emb-japan.go.jp/oda/id/whatisoda_01.htm , diakses tanggal 16 September 2011.

 

Prasetya, D. (2011, Januari 7). Kepentingan Politik Jepang dalam Official Development Assistance (ODA) di Indonesia. Donny Prasetya Blogspot. Diperoleh tanggal 15 september 2011, dari

http://donnyprasetya.blogspot.com/2011/01/kepentingan-politik-jepang-dalam.html

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s