MALARI 1974

Standard

By: Mega

MALARI 1974

Puncak Demonstrasi Mahasiswa dan Kerusuhan Sosial di Jakarta

 

Hubungan dagang Indonesia-Jepang telah terjalin jauh sebelum masa pendudukan Jepang di Indonesia. Awalnya hanya pedagang kelontong kecil-kecilan saja yang datang ke Indonesia. Para pedagang kelontong ini mulanya menjajakan barangnya dengan berkeliling, kemudian mereka mulai membangun toko di beberapa tempat jika usahanya sukses. Seiring dengan perkembangan industri di Jepang yang semakin maju, maka datanglah para investor-investor Jepang yang dikenal dengan Zaibatsu. Hal ini dikarenakan Jepang membutuhkan pasar bagi industrinya dan Indonesia merupakan pasar yang bagus sekaligus ladang yang subur untuk menanam modal.

Pada masa kemerdekaan Indonesia dari pendudukan Jepang, para investor mengusahakan berbagai cara agar tidak kehilangan investasi mereka di Indonesia. Peranan investor Jepang sangat besar dalam lobi-lobi pampasan perang agar sebisa mungkin mereka tidak merugi terlalu besar. Oleh karena itu sebagian pampasan perang yang dibayarkan oleh Jepang berupa proyek-proyek pembangunan, misalnya Bendungan 3K (Karangkates, Konto, Kanan), Hotel Indonesia, Wisma Nusantara, dan lain-lain. Sejak saat itu pula hubungan dagang Indonesia-Jepang, atau lebih tepatnya usaha dagang Jepang ke Indonesia, semakin menigkat kuantitasnya.

Butuh beberapa tahun untuk menyadari trik perdagangan Jepang ke Indonesia tersebut. Tahun 1973 para mahasiswa mulai merasa resah mengenai keterbukaan Presiden Soeharto terhadap investor asing, khususnya Jepang. Mahasiswa menilai presiden terlalu ramah terhadap investor Jepang, sehingga disinyalir dapat mematikan indsutri lokal yang saat itu belum sebesar perusahaan Jepang. Kebencian mahasiswa semakin meningkat karena arogansi para investor Jepang.

Belum reda keresahan mahasiswa terhadap investor asing, muncul isu cukongisme. Sebagian besar rekan Badan Urusan Logistik (Bulog) adalah orang-orang keturunan Cina (cukong). Mereka dinilai terlalu mendominasi distribusi barang kebutuhan pokok. Keresahan mahasiswa semakin memanas ketika surat kabar Harian Nusantara mengulas mengenai cukongisme, mereka yang kaya, dan pengaruhnya terhadap kekuasaan. Selain itu Jendral Soemitro mencetuska gagasan tentang “Komunikasi Dua Arah dan Pola Kepemimpinan Baru”. Gagasan ini dimaknai sendiri oleh para aktivis mahasiswa sehingga berkembang menjadi isu politik besar.

Sejak September 1973 mulai marak diskusi, seminar, dan peremuan-pertemuan informal yang membahas isu politik tersebut. Salah satu hasil dari aksi-aksi mahasiswa tersebut adalah petisi 24 Oktober yang antara lain berisi peringatan kepada pemerintah agar meninjau kembali strategi pembangunan dan menyusun strategi baru yang di dalamnya terdapat keseimbangan di bidang politik, sosial, ekonomi, serta anti kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Aksi-aksi mahasisawa ini kemudian dikenal dengan istilah ‘keresahan kampus.’ Presiden Soeharto mengutus Jendral Soemitro untuk meredam aksi-aksi mahasiswa dengan cara berdialog langsung dengan mereka. Hal ini kemudian dikenal dengan ‘Safari Kampus Soemitro.’

Aksi-aksi mahasiswa semakin meningkat sejak Desember 1973. Mereka tidak hanya melakukan diskusi-diskusi di kampus, tetapi juga giat turun demonstrasi ke jalan bahkan disertai aksi menyerahkan memorandum kepada pejabat pemerintah. 18 Desember 1973, mahasiswa UI menggelar pernyataan “Kebulatan Tekad” yang ditandatanngani Hariman Siregar dan Judil Hery. 24 Desember 1973, kurang lebih 200 mahasiswa yang mewakili Dewan Mahasiswa berangkat dari kampus UI Salemba menuju Bima Graha dan Cendana dengan maksud ingin berdialog dengan Presiden Soeharto.

Memasuki tahun 1974 aksi demonstrasi mahasiswa tidak mereda, bahkan memuncak pada 15 Januari, pada saat kunjungan Perdana Menteri Tanaka Kakuei. Para mahasiswa berencana menyambut kedatangannya dengan aksi demonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, namun tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara karena dijaga ketat. Aksi ini diawali dengan apel ribuan mahasiswa yang berlangsung dari kampus Universitas Indonesia (UI) di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, menuju kampus Universitas Trisakti di bilangan Grogol, Jakarta Barat. Apel ini menghasilkan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat) yang isinya meminta pemerintah untuk memberantas korupsi, mengubah kebijakan ekonomi terutama mengenai modal asing yang didominasi Jepang, dan membubarkan lembaga tidak konstitusional seperti Asisten Pribadi Presiden (Aspri). Apel ini diakhiri dengan pembakaran patung Kakuei Tanaka.

Belum puas dengan aksi mereka, para mahasiswa bergerak menuju Istana Negara di kawasan Monas yang saat itu menjadi tempat pertemuan Soeharto dengan PM Jepang Tanaka. Mereka mencoba menerobos masuk, namun diblokade oleh aparat keamanan. Demonstrasi mahasiswa tersebut memuncak menjadi aksi kekerasan tanpa tahu siapa yang memulai. Akibatnya terjadi petrus (penembakan misterius) yang menewaskan beberapa demonstran.

Pada 15 Januari 1974 tidak hanya terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa, tetapi juga kerusuhan sosial. Terjadi pengrusakan, pembakaran, dan penjarahan di daerah yang dikenal dengan Proyek Pasar Senen yang merupakan pusat perdagangan besar di ibukota. Sasaran kerusuhan ini adalah toko-toko, showroom mobil dan motor buatan Jepang. Kabarnya hanya satu gedung berbau Jepang yang selamat, yaitu Gedung PT Krama Yudha Mitsubishi di jalan Tanah Abang. Hal ini berkat tindakan “pengrusakan sendiri” yang dilakukan oleh para karyawannya. Aksi kerusuhan ini juga disertai dengan tindakan pemerkosaan massal terhadap wanita keturunan Cina.

Paska kerusuhan yang terjadi di hadapan PM Kakuei Tanaka tersebut Presiden Soeharto mengambil langkah-langkah tegas. Jenderal Soemitro dicabut jabatannya sebagai Pangkobkamtib karena dianggap gagal meredam kerusuhan dan presiden langsung mengambil alih jabatan tersebut. Dalam kerusuhan ini Ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman Siregar, dianggap paling bertanggung jawab, sehingga divonis enam tahun penjara. Sejumlah aktivis dan tokoh seperti Mochtar Lubis, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sjahrir, dan Marsillam Simanjuntak juga sempat dibui. Selain itu jabatan Asisten Pribadi Presiden dibubarkan dan Kepala Bakin Soetopo Juwono digantikan oleh Yoga Sugama. Sejumlah surat kabar dicabut surat izin terbitnya, antara lain harian Nusantara, harian KAMI, Indonesia Raya, Abadi, The Jakarta Times, Mahasiswa Indonesia, Pedoman, koran mingguan Wenang dan Ekspres.

Peristiwa 15 Januari 1974 ini diduga tidak hanya protes mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga persaingan politik antar pejabat pemerintah. Beberapa sumber mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan persaingan politik antara Jenderal Ali Moertopo dengan Jenderal Soemitro. Jenderal Ali Moertopo menuduh eks PSII dan eks Masyumi atau ekstrem kanan adalah dalang peristiwa tersebut. Tetapi setelah para tokoh peristiwa Malari seperti Syahrir dan Hariman Siregar diadili, tidak bisa dibuktikan bahwa ada sedikitpun fakta dan ada seorangpun tokoh eks Masyumi yang terlibat di situ. Dalam ‘dokumen Ramadi’ disebut-sebut rencana Soemitro menggalang kekuatan di kampus-kampus. Dalam dokumen tersebut dikatakan, “Ada seorang Jenderal berinisial S akan merebut kekuasaan dengan menggulingkan Presiden sekitar bulan April hingga Juni 1974. Revolusi sosial pasti meletus dan Pak Harto bakal jatuh”. Ramadi saat itu dikenal dekat dengan Soedjono Humardani dan Ali Moertopo. Tudingan dalam “dokumen” itu cenderung mengacu kepada Jenderal Soemitro. Sementara itu di sisi lain, (almarhum) Soemitro dalam buku-buku Ramadhan KH (1994) dan Heru Cahyono (1998) cenderung menyalahkan Ali Moertopo. Soemitro mengungkapkan, Ali Moertopo dan Soedjono Humardani “membina” orang-orang eks DI/TII dalam GUPPI (Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam).

Peristiwa 15 Januari 1974 masih merupakan salah satu dari teka-teki sejarah yang belum terpecahkan. Kerusuhan sosial yang membarengi aksi demonstrasi mahasiswa belum dapat dipastikan siapa dalangnya. Tuding menuding antara pejabat pemerintah pun tidak dapat dipaastikan pernyataan siapa yang paling benar. Beberapa orang ditahan karena ada pihak yang harus dikambinghitamkan, namun tidak bisa membuktikan apapun. Peristiwa 15 Januari 1974 ini kemudian dikenal dengan MALARI 1974.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s