LOBI PERDAMAIAN INDONESIA – JEPANG

Standard

Puspita Yuni S. / 120810394

LOBI PERDAMAIAN INDONESIA – JEPANG

            Lobi perdamaian ini berawal dari adanya ketegangan yang terjadi antara kedua negara. Perbedaan pandangan antara Jepang dan Indonesia mengenai jumlah pampasan perang telah membuat perdamaian antara kedua negara ini belum mencapai titik temu. Masing-masing pihak memiliki alasan dan pembelaan terhadap jumlah pampasan perang yang diajukan. Tarik ulur ini membuat beberapa pihak, tidak hanya pejabat formal tapi juga kalangan informal turut serta dalam proses lobi perdamaian ini.

Yang membuat proses lobi perdamaian ini menarik adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ternyata, yang memiliki peran sangat besar adalah orang-orang yang berasal dari kalangan informal. Mereka berasal dari kalangan pengusaha, industrialis, dan orang yang sangat berpengaruh dari kedua negara. 4 tokoh utama dari lobi perdamaian ini adalah Nishijima, Subardjo, Matsunaga dan juga Adam Malik. Mengapa kaum pengusaha dan industrialis sangat bersemangat dalam mengusahakan lobi perdamaian kedua negara? Hal ini dikarenakan, Indonesia memiliki kekayaan SDA dan merupakan lahan usaha yang baik bagi pengusaha Jepang. Akhirnya, upaya Lobi Perdamaian ini dilakukan pada September 1951- Desember 1957.

Beberapa organisasi yang terlibat diantaranya :

1.)    Asosiasi Jepang-Indonesia

2.)    Perwakilan Angkatan Laut => mendirikan Asrama Indonesia Merdeka

3.)    Trio Indonesia => Matsunaga, Ayukawa, dan Ishihara

Adapun upaya-upaya yang dilakukan diantaranya adalah :

1.)    Kunjungan Subardjo ke Tokyo, Mei 1952

2.)    Peran para pengusaha Jepang tertentu => Trio Indonesia yang melihat peluang industry, berupaya agar Lobi Perdamaian segera mencapai titik temu.

3.)    Kunjungan Nishijima ke Jakarta, Januari 1953

4.)    Kubota dan proyek pengembangan Asahan => proyek yang dianggarkan menggunakan sebagian dana pampas an. Proyek ini tidak berhasil dijalankan karena perundingan pampas an belum mencapai titik temu.

5.)    Keberangkatan Matsunaga untuk misi Iwata ke Indonesia, Februari – Maret 1954

6.)    Kunjungan Adam Malik ke Tokyo, 1954 => kunjungan ini menyebabkan dekatnya hubungan Adam Malik dengan beberapa tokoh Jepang. Dengan begitu, Adam Malik yang merupakan Kepala dari Kantor Berita Antara menuliskan nilai-nilai baik yang dimiliki Jepang. Hal ini sangat menguntungkan Jepang, karena citranya membaik di mata dunia, serta meningkatkan posisinya di Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung.

7.)    Nishijima dan misi Matsunage Ayukawa, Juni-Juli 1956

8.)    Perlawatan kedua Subardjo ke Tokyo, Juli 1957

9.)    Ishihara, Shimizu & Shimonaka di Jakarta, September 1957

10.)   Kunjungan Omar Tusin ke Tokyo, Oktober 1957

Upaya-upaya tersebut  pada akhirnya belum juga bisa merealisasikan perdamaian kedua negara. Akan tetapi, hubungan para tokoh yang terlibat di dalamnya membuat kerjasama antara kedua negara di bidang industri dan usaha ini semakin maju.

Catatan :

Pada saat lobi perdamaian, pemerintah dari kedua negara tidak campur tangan secara langsung, dan terkesan acuh terhadap permasalahan tersebut. Hal ini dikarenakan, kedua negara masih memiliki prioritas dalam mengurusi permasalahan intern, sehingga tidak berkonsentrasi untuk menyelesaikan permasalahan pampasan perang. Sedangkan kalangan kaum usahawan dan industrialis memiliki pandangan yang berbeda. Mereka menginginkan lobi perdamaian segera dilakukan agar kerjasama (yang pastinya akan menguntungkan Jepang) bisa segera dilaksanakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s