Konflik dengan Malaysia dan Kelompok Pendukung Soekarno

Standard

Ni. Luh Ketut Yuniasari Lediaya/120810011

Konflik Malaysia dan Kelompok pendukung Soekarno

  1. Latar belakang terajadinya konflik Malaysia-Indonesia

Pulau Kalimantan dibagi menjadi 4 administrasi. Dibagian Utara adalah kerajaan Brunei dan dua koloni Inggris : Sarawak dan Borneo Utara (Sabah). Inggis ingin menarik koloninya di Asia Tenggara dan mencoba menggabungkan koloninya di Kalimantan dengan Semenanjung Malaya membentuk Federasi Malaya.

Rencana yang dikemukakan oleh Inggris itu ditentang oleh pemerintah Indonesia. Presiden Soekarno berpendapat bahwa Malaysia hanya sebuah boneka Inggris dan konsolidasi Malaysia hanya menambah kontrol Inggris di wilayah ini yang akan mengancam kemerdekaan Indonesia. Hal ini diperkuat oleh dukungan Filiphina yang menyatakan klaim atas Sabah, karena wilayah tersebut memiliki hubungan sejarah dengan Filiphina melalui Kesultanan Sulu.

Akhirnya Filiphina dan Indonesia setuju untuk menerima pembentukan Federasi Malaysia apabila mayoritas di daerah yang hendak dilakukan dekolonoal tersebut memilihnya dalam sebuah referendum yang diorganisasi oleh PBB. Namun, pada tanggal 16 September, sebelum hasil dari pemilihan dilaporkan. Malaysia sudah mengumumkan bahwa Malaysia akan membentuk Federasi Malayasia. Hal ini membuat Indonesia marah dan geram atas tindakannya. Konfrontasi ini secara resmi dikelurkan oleh Menlu Subandrio pada tanggal 20 Januari 1963, yang mempertegas kebijakan Indonesia yang meentang federasi Malaysia.

Dalam konfrontasi yang terjadi antara Malaysia-Indonesia terdapat peran Jepang yang bertindak sebagai mediator. Jepang berperan sebagai mediator selama 3 periode, antara lain :

  1. Periode Pra-Malaysia (20 Januari 1963-16 September 1963)
  2. Periode pasca-Malaysia (16 September 1963- 30 September 1965)
  3. Periode pasca Gestapu (Oktober 1965- Agustus 1966)

Adanya sikap Malaysia yang seperti ini menyebabkan Indonesia keluar dari PBB 20 Januari 1965,  saat Malaysia masuk menjadi anggota tidak tetap PBB. Indonesia kemudian membentuk konferensi kekuatan baru Conefo (Conference of New Emerging Forces) sebagai alternatif. Tidak hanya itu, Soekarno membentuk Ganefo (Games of New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan, Jakarta pada 10-22 November 1963. Acara ini diikuti oleh 2.250 atlet dari 48 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Selatan, serta diliput 500 orang wartawan.

  1. Kelompok Pendukung Soekarno

Adapun kelompok Soekarno tidak terbatas pada warga Indonesia, namun juga berasal dari luar Indonesia dan warga Jepang yang berada di luar Indonesia. Pendukung Soekarno menjuluki kelompok ini dengan nama Soekarnois. Soekarnois adalah kumpulan orang yang mendukung Soekarno dan aktivitasnya dalam hubungan Jepang-Indonesia. Pendukung Soekarno antara lain :

  1. Pejabat Kedutaan Besar Indonesia
  2. Persatuan Pelajar Indonesia di Tokyo
  3. KBRI dan PPI juga bekerja sama dengan PNI dan PKI di Jakarta dan partai sosialis Jepang, partai komunis Jepang, Partai liberal Demokrat, dan Asosiasi Jepang-Indonesia di Tokyo.

Dasar kekuasaannya diwujudkan sebagai Demokrasi terpimpin. Pada tanggal 17 Agustus 1959 Soekarno menerapkan sistem Nasakom, bahwa kaum nasionalis, komunis dan religius dapat ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan nasional. Soekarno membubarkan DPR dan Dewan Konstituante yang terpilih diganti dengan pembentukan DPR-GR dan MPRS.

Pada pidatonya Agustus 1959 yang dianggap sebagai ideologi Indonesia yang dinamakan(MANIPOL),digambarkan sebagai 5 sendi yang disingat USDEK, U (Undang-Undang Dasar 1945), S (Sosialisme ala Indonesia), D (Demokrasi Terpimpin), E (Ekonomi Terpimpin), K(Kepribadian Indonesia). Selain itu, untuk memperkuat ideologiya slogan lama Soekarno tentang pancasila. Untuk menyebarkan konsep ini Agustus 1960 Soekarno membentuk Front Nasional.

Soekarno mengangkat 2 orang kaki tangannya, yaitu Sabandrio dan Saleh sebagai wakil perdana menterinya masing-masing 1960 dan 1963. Soekarno mengumpulkan dana untuk revolusi Indonesianya, kemudian ia mendapat bantuan dari BAMUNAS yang dibentuk pada Februari 1964. Pada Tahun 1964 Soekarno mempersiapkan dana revolusi dan memerintahan Jusuf Muda Dalam untuk mencari dukungan dana keuangan untuk dana tersebut. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, Jusuf Muda berhasil mendapatkan 250 rupiah untuk setiap satu dollar Amerika Serikat dari nilai barang diimpor para pedagang.

Cadangan Valas sudah habis setelah tahun 1963, maka Jusuf menggantinya dengan kredit yang diberikan oleh Kawashima kepada Soekarno dalam upaya untuk menetramkan dan mendesaknya agar tidak menggunakan kekerasan dalam konflik Malaysia-Indonesia. Dana Revolusi yang telah dikumpulakan oleh oekarno digunakan untuk proyek-proyek yang telah dirancang Soekarno, seperti Monas.

Sahabat dekat soekarno ikut berperan penting seperti A,Musin Darsaad  (ketua Dasaad Musin Conscern)dan Markam (letnan tak dikenal pemilik perusahaan karkam).. Istri Soekarno, Dewi juga meminta sumbangan finansial dari lembaga persahabatan jepang-indonesia dan club nadeshiko untuk membangun rumah sakit Sari Asih. Dalam Sidang Subandrio pada tahun 1966, ia memiliki $ 250 ribu di sebuah bank Swiss untuk biaya KAA k-2 dan dana darurat BPI $ 250 ribu pada tahun 1966 dengan nama James Newman di Daiwa Securities, Tokyo. 2 istri Soekarno pun bersaing untuk mendapatkan dukungan dan dihubungi oleh para anggota lobi Kawashima, dubes Saito Shizuo, Sabandrio, dan Dubes Cina Yao Chun Ming.

  1. Masyarakat Indonesia di Tokyo

Kedutaan besar indonesia memiliki tugas selain mengawasi warga negara dan aktivitas mereka, tetapi juga memanfaatkan warga negara untuk mendukung tujuan politik Indonesia. Pemerintah Indonesia dalam hal ini, Presiden Soekarno dan para pembantu dekatnya, Saleh dan Sabandrio, berpandangan bahwa lebih tepat untuk mengirimkan orang-orang mereka sendiri untuk program beasiswa pampasan yang telah dimulai tahun 1960.

PPI di Tokyo merupakan organisasi pelajar indonesia paling kuat dan besar. Anggotanya berjumlah 600 pemuda Indonesia di Tokyo. Hal ini juga didukung oleh beberapa faktor :

  1.  pemilihan ketuanya berdasarkan kualifikasi politik dan pribadi daripada akademis.
  2. Kekuatan organisasi ini terletak pada adanya bangunan yang sangat besar “Wisma Indonesia” yang menampung pelajar dari Indonesia
  3. Kesadaran politik dan solidaritas mereka yang dipupuk oleh soekarno yang serig berkunjung ke Tokyo.
  4. Struktur organisasi ini diperkuat oleh para kader politik atau organisator afilasi PNI yang dipilih dengan program pampasan dengan tujuan memanfaatkan PPI untuk mempromosikan kebijakan pemerintah.
    1. Soekarnois di Tokyo, Nekolim, dan Conefo

PPI melakukan pendekatan kepada partai-partai utama Jepang mengenai konfrontasi. Partai Sosialis faksi sayap kanan yang setuju dengan Indonesia terhadap Malaysia dan pada Juni 1965, menyatakan dukungan penuhnya terhadap perjuangan Indonesia untuk “menghancurkan neocolonial Malaysia.” Bulan Juli tahun itu setelah KAA ditunda sampai bulan November, Kutsumada Seichi mengunjungi Jakarta untuk hadir dalam HUT PNI ke-38 dan  mengeluarkan suatu pernyataan bersama dengan pemimpin PNI, Ali Sastroamidjojo, untuk mendukung kebijakan ‘Ganyang Malaysia’ dan menyusun garis besar mereka untuk mensponsori Conefo.

PPI mempromosikan ide Soekarno tentang Ganefo. Jakarta mensponsori Ganefo dalam bulan November 1963, mereka menggalang dana para mahasiswa Asia, Afrika, dan Amerika Latin di Tokyo dalam pesta olah raga mini/ Ganefo Mini. Dukungan untuk Soekarnois juga diberikan langsung oleh PKJ  atas kekagumannya pada strategi Persatuan Front Nasional dan konsep Nasakom. Soekarnois di Tokyo terdiri dari PPI, PKJ, para anggota radikal partai sosialis, dimana semuanya mengukung dengan ideologi masing-masing kelompok.

Kawashima mengunjungi Jakarta pada bulan April 1965 untuk membujuk Soekarno dengan persyaratan-persyaratannya, dia juga harus berkompetisi dengan kelompok PPI, PJK,serta Komunis Cina, yang dengan Bantuan Subandrio dan PKI, juga berusaha membujuk Soekarno. Kawashima dan Chou En Lai merencanakan untuk menghadiri KAA ke dua di Aljazair.

Aljazair pecah perang kelompok anti komunis 19 Juni, sehingga KAA tertunda. Perang ini menghancurkan rezim Ben Bella yang pro Beijing merupakan kemunduran bagi persekutuan Beijing-Jakarta. Shimizu Hitoshi (sahabat Soekarno) khawatir pukulan yang sama akan dirasakan rezim soekarno, dimana anti-soekarno di Tokyo mulai memanas.

  1. Kesimpulan

Konfrontasi ini disebabkan karena Malaysia melanggar kesepakatan yang dilakukan oleh ketiga Negara (Malaysia, Indonesia, dan Filiphina) dengan mengumumkan bahwa akan memfederasi Malaysia. Konfrontasi antara Indonesia-Malaysia terdapat campur tangan Jepang. Dalam masalah ini Jepang berperan sebagai Mediator pada konfrontasi Malaysia-Indonesia, selama 3 periode :

  1. Periode Pra-Malaysia (20 Januari 1963-16 September 1963)
  2. Periode pasca-Malaysia (16 September 1963- 30 September 1965)
  3. Periode pasca Gestapu (Oktober 1965- Agustus 1966)

Konfrontasi ini pula yang membuat Indonesia keluar dari PBB pada 20 Januari 1965, saat PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap PBB.

Pendukung Soekarno, antara lain : Pejabat Kedutaan Besar Indonesia, Persatuan Pelajar Indonesia di Tokyo, Selain itu KBRI dan PPI juga bekerja sama dengan PNI dan PKI di Jakarta dan partai sosialis Jepang, partai komunis Jepang, Partai liberal Demokrat, dan Asosiasi Jepang-Indonesia di Tokyo. Selain itu, kedua istri Soekarno Dewi dan Hartini bersaing untuk mendapatkan dukungan untuk Soekarno

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s