Kebijakan Moneter Hindia Belanda pada Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)

Standard

SEJARAH HUBUNGAN INDONESIA-JEPANG

Kebijakan Moneter Hindia Belanda pada Masa Pendudukan Jepang (1942-1945)

Zodiak Yanuarita

120810397

 

1.                     Latar Belakang

Sebelum kedatangan bangsa barat di Jepang, dahulu Jepang adalah negara yang terisolasi. Namun, setelah bangsa barat masuk ke Jepang, tak dapat dielakkan budaya barat mau tidak mau juga mulai masuk ke dalam tubuh Jepang. Tak hanya mengadopsi budaya dari luar, Jepang juga meniru apa yang dilakukan oleh bangsa Barat. Jepang mulai berpikir bagaimana untuk memperluas wilayah serta menguasai wilayah tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi operasi penyerangan Jepang ke Cina (Tragedi Manchuria) dan di Pulau Sakhalin (Rusia).

Tak puas berhenti sampai di sini saja, Jepang ingin menguasai  daerah yang lebih besar. Pada tahun 1942 Jepang melancarkan serangan pada pengkalan laut militer Amerika Serikat sehingga menyebabkan Amerika lumpuh. Hal ini menyababkan kekalahan total pada pihak Amerika dan sekutunya.  Keberhasilan Jepang di Hawai pada tahun 1942 menimbulkan semangat baru bagi Jepang untuk memperluas wilayah jajahan. Jepang mulai ber-ekspansi ke wilayah asia selatan, di mana di situ termasuk wilayah Hindia Belanda.

Akhirnya, pada 5 Maret 1942 Batavia jatuh dan tiga hari kemudian Belanda bertekuk lutut di Bandung (http://help.kintamoney.com/wiki/Sejarah_Uang_Kertas_Di_Indonesia). Propaganda Jepang terhadap Indonesia mengenai kesamaan ras dan suku bangsa (sama-sama bangsa Asia) menyebabkan bangsa Indonesia berpikir bahwa tidak mungkin Jepang akan melakukan penjajahan seperti yang dilakukan oleh Belanda sebelumnya. Dari sini mulailah awal pendudukan Jepang di Indonesia.

Setelah berhasil merebut Hindia-Belanda dari tangan Belanda, Jepang segera melakukan penguasaan dari segi perekonomian untuk sepenuhnya menguasai wilayah Hindia-Belanda karena pada waktu itu perekonomian Hindia –Belanda masih dipegang oleh Belanda. Di samping itu, Jepang juga membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk memasok kebutuhan militernya. Untuk itulah Jepang mengeluarkan berbagai kebijakan-kebijakan ekonomi yang diharapkan dapat menguntungkan pemerintah Jepang sendiri..

2.                     Kebijakan Moneter yang dikeluarkan selama pendudukan Jepang

Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang berhubungan dengan dengan penutupan bank-bank asing terutama milik Belanda dan dibukanya Nanpo Kaihatsu Ginko (NKG), mata uang yang beredar di masyarakat, dan pembentukan Southern Development Bank (SDB). Berikut penjelasannya.

 

2.1.               Likuidasi Bank Milik Belanda dan Bank Asing Lainnya

Sebelum kedatangan Jepang, di Hindia Belanda sendiri sudah terdapat sebuah bank sirkulasi yang bertugas mencetak uang, yaitu De Javasche Bank. De Javasche Bank ini didirikan oleh pemerintah Belanda untuk kebutuhan dagang, khususnya di pulau Jawa. Pusat DJB ini adalah di pulau Jawa karena pada waktu itu Pulau Jawa adalah pusat perdagangan dan yang paling ramai dibandingkan wilayah Hindia Belanda yang lain.

Setelah Belanda menyerah pada Jepang pada tanggal 9 Maret, Jepang segera meminta penyerahan aset-aset bank. Hingga bulan Oktober 1942, Jepang berhasil melakukan penutupan terhadap bank-bank milik Belanda dan bank asing lainnya di wilayah Hindia Belanda. Penutupan bank-bank tersebut dibagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Likuidasi bank-bank yang ada di Pulau Jawa. Perintah likuidasi ini dikeluarkan oleh Penguasa Jepang yang ada di wilayah Jakarta.
  2. Likuidasi bank-bank yang ada di wilayah Sumatera oleh Tentara Pendudukan Jepang di Singapura
  3. Likuidasi bank-bank yang ada di wilayah Indonesia timur oleh Kementrian Angkatan Laut di Tokyo.

Sebagai gantinya, Jepang mendirikan tiga bank besar lainnya yaitu Taiwan Bank, Yokohama Specie Bank, dan Mitsui Bank. Ketiga bank besar ini menggantikan peran bank-bank yang telah ditutup oleh Jepang. Ketiga bank besar ini sebetulnya adalah “bank lama” yang dilikuidasi oleh pemerintah Belanda pada saat pecah Perang Dunia II dan dibuka kembali oleh Jepang ketika berhasil mendarat dan mengambil alih Hindia Belanda dari tangan Belanda. Selanjutnya, wilayah operasional Taiwan Bank ini dikhususkan di Pulau Jawa sedangkan untuk di luar jawa, itu menjadi wilayah operasioanl Yokohama Specie Bank.

Selain itu, ada juga Nanpo Kaihatsu Ginkou. NKG adalah bank yang bertugas untuk mengedarkan invasion money diseluruh wilayah Hindia Belanda. Boleh dikatakan, bahwa NKG ini menggantikan peran DJB yang ada pada masa pendudukan Belanda. NKG berada di pulau Jawa namun berpusat di Tokyo. NKG berfungsi sebagai bank sirkulasi yang  bertugas mengedarkan invasion money Jepang ke seluruh wilayah Hindia Belanda.

 

2.2.            Mengganti mata uang Belanda dengan mata uang invasi Jepang

Setelah berhasil mendarat dan menguasai wilayah Hindia Belanda, Jepang ingin segera meenguasai perekonomian. Hal ini dilakukan Jepang dengan cara menarik mata uang lokal yang beredar pada saat itu. Pada saat itu, uang lokal yang beredar adalah Gulden. Mata uang ini diterbitkan oleh De Javasche Bank, yang merupakan bank sirkulasi milik Belanda yang terbesar di Jawa pada saat itu. Selanjutnya, Jepang mnegeluarkan mata uang baru namun masih menggunakan istilah Gulden, yaitu The De Japansche Regeering yang artinya “pemerintah Jepang”. Jepang masih menggunakan bahasa Belanda dalam pencetakan uangnya karena rakyat sudah familiar dengan bahasa Belanda dibanding bahasa Jepang mengingat Belanda telah menjajah Indonesia selama kurang lebih tiga setengah abad. Mata uang ini dicetak dengan tujuh denominasi yaitu: 10 gulden; 5 gulden; 1 gulden; ½ gulden; 10 sen; 5 sen; dan 1 sen. Pada wakut itu, bank yang bertugas mengedarkan mata uang ini adalah bank buatan Jepang Nanpo Kaihatsu Ginko.

Hingga pada bulan Agustus 1942, jumlah uang Jepang yang beredar mencapai sekitar 110 juta, termasuk wilayah Filipina,  Semenanjung Malaya, dan Burma (sumber: http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2011/04/asal-usul-sejarah-bank-indonesia.html). Selanjutnya, untuk pertama kalinya, pada tahun 1944 mata uang rupiah (waktu itu masih menggunakan ejaan “roepiah”) dicetak, dengan pecahan ½, 1, 5, dan 10, 100 hingga 1000 Rupiah. Namun, untuk pecahan 100 dan 1000 rupiah hanya diedarkan di daerah Sumatera dan khusus dicetak hanya di Jepang. (sumber: Arsip Unit Khusus Museum Bank Indonesia: Sejarah Pra Bank Indonesia)

Selanjutnya, uang ini kemudian dikenal dengan sebutan uang invasi Jepang (Japanese invasion money) karena setiap kali Jepang berhasil menduduki suatu wilayah maka Jepang akan berusaha untuk menganti mata uang lokal yang beredar dengan mata uang buatan Jepang. hal ini dilakukan Jepang untuk menunjukkan bahwa Jepang berkuasa atas daerah jajahannya.

 

2.3.            Pembentukan Southern Development Bank  (SDB)

Southern Development Bank dibentuk pada bulan Maret 1942.  Di Jawa, SDB di buka di Surabaya dan Batavia, dimana Surabaya adalah kota yang ramai dan juga merupakan pusat bank-bank pada masa pendudukan Belanda. SDB adalah bank milik Jepang yang di buat dengan tujuan tertentu. Tugas utama dari SDB adalah menyediakan dana pinjaman bagi perusahaan-perusahaan Jepang, terutama bagi perusahaan-perusahaan zaibatsu. Perusahaan zaibatsu adalah perusahaan besar Jepang baik yang dimiliki oleh pemerintah maupun swasta. Hal ini terlihat dari banyaknya dana pinjaman yang lari ke sektor pabrik dan industri. Sebagai contohnya adalah pada tahun 1942 Perusahaan Industri Berat Kawasaki meminjam dana sebesar 1.210.000 gulden, lalu peminjam terbesar kedua adalah Perusahaan Industri Taiwu lalu disusul di posisi keiga oleh industri Minyak Yoshiwara (Peter Post, 1977:188).

Pembentukan SDB ini berhubungan dengan misi Jepang untuk mengembangkan wilayah jajahan di daerah selatan. Tentu saja dalam sektor perindustrian, mengingat Jepang telah berubah menjadi negara industri setelah Restorasi Meiji. Perusahaan zaibatsu adalah pemasok dana bagi pemerintah sehingga pemerintah menyediakan SDB bagi mereka. Dengan adanya SDB, diharapkan perusahaan zaibatsu dapat lebih mngembangkan usahanya karena dengan modal kecil perusahaan zaibatsu tersebut mampu menjalankan usahanya. Di samping itu, Hindia Belanda adalah wilayah yang kaya akan sumber daya alam sehingga hal ini juga menarik minat para zaibatsu tersebut untuk membuka usahanya di kawasan Hindia Belanda.

2.4                    Dampak Kebijakan Moneter Jepang terhadap Belanda

Kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Jepang tentu saja membuat kegiatan perekonomian Belanda lumpuh total karena bank-bank milik Belanda telah ditutup sehingga belanda tidak dapat menjalankan bisnisnya selama masa pendudukan Jepang.

 

3.                Kesimpulan

Setelah berhasil melumpuhkan Amerika di Hawaii, Jepang memperluas wilayah jajahan ke Asia Selatan. Setelah berhasil merebut Hindia Belanda dari tangan Belanda, Jepang segera melakukan likuidasi terhadap bank milik Belanda dan menarik peredaran uang Belanda dan menggantinya dengan invasion money. Hal ini dilakukan untuk menguasai perekonomian. Selain itu, untuk memasok dana bagi kegiatan militernya, Jepamg mendirikan SDB untuk menyediakan dana pinjaman bagi para perusahaan zaibatsu. Sebagai akibatnya,  kebijakan yang dikeluarkan oleh Jepang merugikan pihak Belanda.

 

 

 

 

 

Sumber:

Arsip Unit Khusus Museum Bank Indonesia: Sejarah Pra Bank Indonesia

 

Post, Peter, Touwen-Bowsma. Japan, Indonesia and The War. Netherlands: KITLV Press. 1977

http://www.google.co.id/#pq=gunseikanbu&hl=id&cp=48&gs_id=5l&xhr=t&q=jumlah+uang+yang+beredar+di+indonesia+thaun+1942&pf=p&sclient=psy-ab&source=hp&pbx=1&oq=jumlah+uang+yang+beredar+di+indonesia+thaun+1942&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=&gs_upl=&bav=on.2,or.r_gc.r_pw.,cf.osb&fp=69fff4edf3d0e440&biw=1024&bih=509

http://help.kintamoney.com/wiki/Sejarah_Uang_Kertas_Di_Indonesia

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Nusantara_(1942-1945)

http://en.wikipedia.org/wiki/Japanese_invasion_money

http://asal-usul-motivasi.blogspot.com/2011/04/asal-usul-sejarah-bank-indonesia.html

http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_rupiah

http://kaskusnews.us/category/indonesia/sejarah-indonesia/page/6/

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s