Awal Masuknya Gelombang Kedatangan Orang-orang Jepang ke Indonesia

Standard

Raw unedited version

Aditia Rahman

120710313

 

Awal Masuknya Gelombang Kedatangan Orang-orang Jepang ke Indonesia

Dalam catatan Sejarah telah ada orang Jepang yg ditandai datangnya Karayuki San “Sex Worker” sejak  berakhirnya politik tertutup Jepang ditandai dengan munculnya Restorasi Meiji atau Zaman Meiji (1868-1912) dan berlanjut sampai Zaman Taisho (1912-1926).  Karayuki-san adalah wanita-wanita Jepang yang bekerja di bidang prostitusi dan ditempatkan di daerah Siberia, Manchuria, Cina, Asia Tenggara, daerah Pasifik Selatan, India, sampai Amerika dan Afrika setelah zaman Meiji. Asia Tenggara yang saat itu ramai sebagai jalur perdagangan dunia, khususnya Semenanjung Malaka merupakan tujuan utama kedatangan Karayuki San. Kemudian masuk pula ke Indonesia.

Munculnya Karayuki San ini banyak disebabkan oleh keadaan ekonomi keluarga Karayuki San itu yang sengsara. Sehingga keadaan yang seperti ini banyak dimanfaatkan oleh oknum penyalur pekerja Seks Jepang untuk semakin mengembangkan usahanya. Cara yang sering ditempuh perantara untuk membujuk calon Karayuki-San adalah dengan mengiming-imingi pekerjaan dengan penghasilan yang besar juga dengan memberikan fasilitas kepada orang tua atau kerabat calon Karayuki San. Hal ini membuat kerabat calon Karayuki San dengan senang hati menyerahkan anak atau kerabat mereka untuk ikut dengan perantara penyalur Karayuki San itu sendiri. Perjalanan melewati pelabuhan Kochinotsu dan Moji yang pemeriksaannya tidak seketat pelabuhan Nagasaki. Perjalanan melewati China dan akhirnya sampai di Semenanjung Malaya hingga Indonesia.

Karayuki-San yang berada di Indonesia rata-rata bekerja di Rumah Bordil, tempat pelacuran terselubung di restoran, kedai kopi, salon, penginapan, dan mereka yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, merangkap sebagai istri simpanan. Mereka kebanyakan melayani Ekspatriat dari Eropa khususnya Belanda dan Perancis yang saat itu banyak bekerja di daerah kolonial kekuasaan Pemerintahan Hindia-Belanda.

Karayuki San yang sukses akhirnya bereinkarnasi menjadi Kara Kudari. Mereka ini berhasil merubah hidup setelah mendapatkan warisan dari suami simpanan mereka setelah meninggal atau mendapat kompensasi dari para Ekspatriat yang kembali ke Negara masing-masing. Dan warisan atau Kompensasi ini tergolong sangat besar sehingga dapat merubah kehidupan Karayuki San secara singkat.

Kedatangan rombongan pedagang Jepang yang masuk ke Indonesia tercatat, Ishii Tarou dan Yano Tooru mengatakan, orang Jepang masuk ke Aceh pada tahun 1873 serta Batavia dan menyebar ke daerah lain, namun masih dalam jumlah yang sedikit. Mereka ini masih berdagang secara berkeliling, dan hanya sedikit yang membuka toko.

Menurut catatan Yano Tooru bangsa Jepang datang terlambat ke Indonesia karena 3 hal, yaitu:

1. Jarak dan transportasi menuju Indonesia terlampau jauh dan sulit.

2. Tahun ke-32 Meiji barulah orang Jepang disejajarkan dengan orang Barat,  sehingga     kedatangan mereka tidak dibatasi lagi.

3.Indonesia bukanlah tujuan utama perdagangan orang-orang Jepang barulah setelah mereka yang lebih dulu datang ke Indonesia mengetahui kemudahan perdagangan di Indonesia barulah mereka beramai-ramai datang ke Indonesia.

Tetapi diyakini kuat bahwa orang-orang Jepang yang pertama datang ke Indonesia adalah para pelacur dan wanita penghibur (Jooshigun atau Karayuki-san)

Awalnya pedagang Jepang memikul dagangannya yang disebut gyosho sambil berkeliling desa.Shimizu Hajime menuliskan karayuki-san membeli barang-barang kebutuhan mereka dari para pedagang kelontong. Ootobografi mantan germo Okamura Iheiji menyatakan bahwa setelah para pelacur tiba yang langsung disusul didirikan toko kelontong. Para pedagang dari Jepang akan datang dan membuka tokonya sendiri. Pimpinan para pelacur yang tidak suka dipanggil pinpu (germo), maka mereka biasanya membuka toko Jepang. Didirikan juga banyak zaibatsu (perusahaan raksasa yang mempunyai usaha jaringan besar), perusahaan ekspor-impor, bank-bank besar masuk ke Indonesia. Catatan oleh Nemoto Eiji (mantan karyawan di salah satu bank) mengatakan bahwa para joushigun adalah para nasabah yang selalu menabung dan paling bisa diandalkan. Joushigun memperlancar bisnis para pedagang Jepang dan membuat sebuah “pintu masuk” untuk para pedagang jepang.

Gelombang besar kedatangan Orang-orang atau Pedagang Jepang terjadi sekitar tahun 1920-an. Pedagang Jepang yang dating pada masa ini telah mengantongi banyak informasi tentang Indonesia dari pedagang Jepang yang telah lebih awal dating ke Indonesia. Mereka yang sudah memiliki permodalan yang cukup mulai membuka toko kelontong dan barang-barang yang mereka jual tidak hanya difokuskan kepada kebutuhan Karayuki San. Namun sudah mulai banyak barang kebutuhan lain yang dijual. Selain itu barang-barang yang mereka jual termasuk barang baru dan inovatif sehingga keberadaan mereka semakin eksis di Indonesia dan dapat bertahan.

Toko-toko kelontong Jepang umumnya berada di kota kota besar seperti Batavia, Bandung, Semarang, Jogja, Surabaya, Malang, Makassar dan Manado.  Hingga banyak memunculkan tokoh-tokoh perintis perdagangan yang terkenal, diantaranya Tsutsumibayashi Kazue, Sawabe Masao, Kaneko Kenjo, Tamaki Choichi dan masih banyak lagi. Dan ternyata usaha Orang-orang Jepang di Indonesia tidak hanya terbatas pada usaha perdagangan saja, namun sudah merambah usaha jasa, yaitu usaha transportasi Bus pertama di Indonesia oleh Sato Shigeru di Bandung.

Keberadaan orang-orang dan Pedagang Jepang pada awal sebenarnya diterima sangat baik oleh masyarakat Pribumi di Indonesia. Ini berlansung dalam waktu yang cukup lama. Hingga pada periode 1930-an, Pedagang Jepang mulai menutup diri dari pergaulan di masyarakat. Sehingga keberadaan mereka di Indonesia ini dipertanyakan. Juga karena kebanyakan Toko-toko kelontong Jepang di Indonesia banyak mempekerjakan warga keturunan Tiong Hoa. Ini memicu kecemburuan oleh penduduk pribumi dikarenakan kesempatan warga pribumi untuk bekerja di Toko-toko kelontong Jepang menjadi sedikit.

Konsul Jepang di Surabaya(akhir tahun 1920-an),Aneha Junpei: masyarakat Jepang telah memperkokoh landasan kehidupan dan memasuki masa yang relatif stabil serta rasa terima kasihnya kepada pemeritah Hindia-Belanda yang menjamin aktivitas orang Jepang baik secara yuridis maupun politis. Ishii Taro salah seorang pemuka masyarakat Jepang sekaligus pemilik toko di Batavia pada awal tahun 1930-an, situasi dalam negri sedang mengalami kekacuan politik yang berawal dari Peristiwa 15 Mei yaitu masalah Tiongkok yang menimbulkan Insiden Manchuria dan Shanghai. Masyarakat Jepang secara langsung belum menyadari keadaan darurat di negaranya dan masih melakukan perdangan. Masyarakat Tiongkok sering mengadakan pemboikotan produk Jepang akibat memburuknya hubungan Jepang-Tiongkok setelah terjadi Peristiwa Chinan pada tahun 1928. Kemudian pihak Belanda mengambil tindakan untuk menekan pemboikotan dengan pertimbangan bahwa suplai produk jepang sangat berguna dalam menstabilkan perekonomian masyarakat karena harganya yang murah.

Pada masa Restorasi Meiji (pertengahan tahun 1880-an),  Jepang memulai pembangunan ekonomi fisik, sehingga memerlukan SDA yang cukup banyak. Sejak zaman Muromachi, muncul berbagai informasi baru dari para pedagang mengenai keadaan negara-negara asing yang belum pernah dikenal sebelumnya.  Pengukuhan posisi Angkatan Laut Jepang di Lautan Pasifik  Memunculkan teori Ekspansi ke Selatan Jepang oleh Angkatan Laut Jepang, hal ini termasuk Indonesia. Tujuan mereka adalah minyak bumi yang digunakan sebagai pendukung pembangunan fisik di Jepang, serta bahan mentah lainnya. Kedatangan mereka terjadi setelah maraknya pedagang Jepang datang ke Indonesia. Memunculkan anggapan bahwa pedagang yang datang terlebih dahulu adalah sebagai mata-mata untuk melihat kondisi Indonesia yang saat itu masih dalam pendudukan Belanda. Meskipun memang ada yang menjadi Mata-mata asli seperti Nishijima Shigetada. Pemerintah Hindia-Belanda mulai memperketat masuknya orang-orang Jepang ke Indonesia. Puncaknya sekitar tahun 1938 Pemerintahan Hindia-Belanda mengusir beberapa penduduk Jepang karena ada dugaan kecurigaan politik

Pada awal tahun 1940-an, teori Ekspansi ke Selatan oleh Jepang semakin menjadi-jadi. Pada tahun 1941, wanita dan anak-anak Jepang memilih pulang ke Jepang karena Pemerintah Hindia-Belanda mencabut perlakuan visa bebas Pajak kepada penduduk Jepang. Namun juga karena Pemerintah Hindia-Belanda memiliki kecenderungan melihat orang Jepang dengan tatapan kecurigaan. Pihak Militer AL Jepang mendayagunakan orang Jepang yang masih tersisa untuk dijadikan penerjemah, pembimbing serta penasehat Militer. Sementara Militer AD mendayagunakan kaum muda untuk dipulangkan dan dilatih secara Militer.

Dengan perubahan peta kekuatan Militer Jepang serta untuk menguatkan posisinya di Asia Pasifik, Jepang melakukan Invasi ke Selatan. Jepang berusaha menggantikan posisi Pemerintah Hindia-Belanda untuk menguasai Indonesia. Langkah yang diambil Jepang adalah dengan mengambil hati penduduk dan tokoh Indonesia dengan faktor kesamaan sebagai bangsa Asia.  Setelah dirasa persiapan sudah cukup, pada tahun 1942, dimulailah masa pendudukan Jepang di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s