Disaster Management in Japan 日本の災害対策

Standard

Raw Unedited Version (No Picture)

Nathania Djundjung (121013005)

Desynta Nirwana Putri (121013025)

Letak Geografis

Jepang adalah negara kepulauan yang  terletak di daerah timur benua Asia. Secara geologis, negara Jepang terletak di antara dua lempeng bumi, yaitu lempeng Mediterania dan lempeng Pasifik. Struktur tanah atau pegunungan vulkanis di dasar samudra Pasifik yang labil sering menimbulkan gempa dasar laut yang menyebabkan terjadinya tsunami.

Selain itu pertemuan suhu dingin dan hangat di udara mengakibatkan perputaran angin taifun. Juga adanya masalah-masalah lainnya seperti, hujan deras dan salju yang lebat.

Natural Disaster in Japan

Earthquake

Letak Jepang berada tepat di atas lempengan-lempengan tektonik yang selalu bergerak, menyebabkan seringnya terjadi gempa bumi. Lebih dari 20% gempa yang terjadi di dunia (berkekuatan 6 richter atau lebih) terjadi di Jepang dan daerah sekitarnya. Contohnya adalah gempa antar lempeng yang disebabkan oleh subduksi lempengan (Great Kanto Earthquake tahun 1923).

Selain itu, Jepang juga terancam oleh gempa yang terjadi di dasar laut, yang mempunyai potensi besar untuk menyebabkan tsunami. Tidak hanya tsunami local saja yang dikhawatirkan, tetapi tsunami dari gempa yang terjadi di lautan terbuka juga menyebabkan kerusakan parah di Jepang. Seperti gempa Chile (1960) yang merambat ke samudra pasifik dan yang akhirnya mengenai pantai Jepang.

Beberapa gempa besar yang pernah terjadi:

Meiji-Sanriku Earthquake (1896, M:8.5)

Showa-Sanriku Earthquake (1933, M:8.1)

Great Kanto Earthquake (1923, M:7.9)

Great Hanshin-Awaji Earthquake (1995, M:7.3)

Great Tohoku Earthquake (2011, M:9.0)

 

Gunung Berapi

            Jepang memiliki 108 gunung berapi aktif (10% dari seluruh bumi). Gejala-gejala sebelum meletusnya gunung berapi tersebut bervariasi, menyebabkan sulit untuk mengetahui sebelumnya dan juga ketika sudah meletus, hanya ada sediit waktu untuk evakuasi. Maka dari itu, untuk melindungi penduduk, diperlukan pembacaan yang akurat akan tanda-tanda mau meletusnya gunung, penyiaran informasi yang lengkap, dan komunikasi yang luas untuk menjamin cepat jalannya evakuasi.

Pemerintah Jepang memiliki organisasi-organisasi yang diletakkan pada daerah gunung berapi aktif untuk terus memperhatikan aktivitas vulkanik. Juga adanya tindakan-tindakan yang diberlakukan untuk daerah-daerah tersebut, seperti penyediaan fasilitas untuk pengungsian dan daerah yang memerlukan pembersihan debu vulkanik.

Banjir dan Badai

Jepang juga sering terkena bencana yang berhubungan dengan air dan angin, termasuk banjir, tanah longsor, ombak besar, yang berkaitan dengan terjadinya taifun. Musim taifun di Jepang berlangsung dari Agustus hingga Oktober. Kebanyakan taifun terjadi di laut dan hanya beberapa saja yang sampai pada daratan. Biasanya, taifun memeiliki kecepatan 17 meter/detik dan akan menyebabkan kerusakan besar bila terjadi di daratan, seperti banjir, perusakan bangunan dan infrastruktur kota, juga kerusakan hutan dan pertanian.

JMA menggunakan Automated Meteorological Data Acquisition System (AMeDAS)/sering disebutアメダス, yang secara otomatis menghitung air hujan, temperature udara, arah dan kecepatan angin, dan sebagainya. Data-data inilah yang digunakan untuk memperkirakan cuaca dan menyiarkan peringatan akan bencana.

Penanganan yang dilakukan adalah seperti peningkatan sungai, dam, dan sistem selokan, juga mempersiapkan peta-peta untuk bencana dan memberikan informasi bencana. Kondisi air pada sungai diperhatikan oleh ministry of land, infrastructure, transport, and tourism dan juga pemerintah setempat.

Beberapa taifun yang pernah terjadi di Jepang:                                         

Ise-wan Typhoon (1959)

Tokage Typhoon (Typhoon No. 23 of 2004)

Typhoon Talas (2011)

Typhoon Roke (2011)

                                                                                   

Salju

            Ketika angin dingin bertiup dari Siberia pada musim dingin, terbawalah salju ke bagian barat (Laut Jepang) Jepang. Banyak permasalahan yang timbul, seperti jatuhnya orang ketika membersihkan salju di atap, longsor salju, dan gangguan lalu lintas.

Pada musim dingin 2005-2006, angin yang kencang membawa salju yang lebat ke bagian barat Jepang. Banyak orang terluka karena jatuh dari atap saat membersihkan salju, ada pula yang terperangkap dibawah salju, dan juga terkubur dalam reruntuhan atap.

Pemerintah Jepang mengambil langkah-langkah untuk mencegah jatuhnya korban, meningkatkan sistem peringatan longsor salju, dan membersihkan salju pada lalu lintas pada saat salju lebat.

Disaster Management

            Di Jepang, secara keseluruhan kebijakan mengenai penanganan bencana berada di tangan kantor cabinet, setiap menteri memiliki tugasnya masing-masing. Pada tingkat nasional, Perdana Menteri merupakan pemimpin dari Central Disaster Management Council/Chuuōbōsai Kaigi (中央防災会議会) dan bekerja sama dengan perusahaan public yang sudah ditentukan (seperti perusahaan TV, listrik, gas, dan telepon).

Pada tingkat prefektur, gubernur lah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan peraturan dan koordinasi menyangkut penanganan bencana. Pada tingkat local, terdapat juga para wali kota. Pada saat bencana, tanggung jawab jatuh pada pemerintah kotamadya. Meskipun begitu, bila bencana yang terjadi pada daerah yang cukup luas, pemerintah prefektur dapat turun tangan untuk meminta bantuan pada Self Defense Force/Jieitai (自衛隊) terdekat. Pemerintah local dapat pula meminta bantuan pada kota lainnya untuk membantu pada saat bencana.

Persiapan Sebelum Bencana

1)      Meningkatkan keawasan terhadap bencana. Di Jepang, terdapat hari-hari peringatan untuk gempa hebat, seperti untuk gempa Kanto dan gempa Hanshin-Awaji. Pada hari-hari peringatan tersebut diselenggarakan seminar-seminar dan acara-acara yang bertemakan disaster management

2)      Komunitas local berperan sangat penting dalam mengurangi kerusakan dan korban bencana. Menurut data dari gempa Hanshin-Awaji, terdapat kurang lebih 250,000 bangunan yang runtuh dan sekitar 35.000 orang terperangkan dalam reruntuhan. Dalam situasi dimana telepon tidak berfungsi dan jalanan yang padat, 27.000 orang diselamatkan oleh tetangga-tetangga mereka dan 80% diantaranya hidup. Sedangkan 8.000 orang diselamatkan oleh polisi, tentara, dan pemadam kebakaran, dan hanya 50% diantaranya hidup. Terdapat latihan-latihan yang diadakan untuk dapat menghadapi bencana, yang bahkan di beberapa tahun terakhir, dibuat dengan semacam roleplay. Dimana peserta yang mengikuti tidak diberi informasi sama sekali sebelumnya tentang bencana yang dihadapi dan harus membuat keputusan dan merespon situasi yang diberikan berdasarkan informasi yang diberikan sebelum latihan tersebut dimulai. Juga diselenggarakannya latihan menghadapi bencana secara rutin di sekolah, perusahaan, dan pabrik seperti mematikan gas pada saat terjadi bencana, cara menggunakan pemadam api, dan bagaimana melewati lorong yang penuh asap. Anak-anak SD pun diajarkan untuk berlindung di bawah meja ketika ada gempa.

3)      Persiapan Darurat. Rumah dan bangunan di Jepang terlengkapi dengan persediaan-persediaan untuk menghadapi bencana, seperti makanan dan minuman darurat, senter, obat-obatan, radio portable, pemadam api, pakaian hangat, dan sebagainya. Juga di beberapa tempat tertentu, terdapat peralatan seperti gergaji, linggis, dan kapak, untuk digunakan pada kondisi darurat. Ada pula penjual minuman (vending machine) yang menjadi gratis setelah terjadinya gempa.

4)      Penelitian teknologi dan science, yang dapat digunakan untuk mengurangi kerusakan yang disebabkan oleh bencana juga mengumumkan ketika terdeteksi adanya resiko akan terjadinya bencana, seperti penggunaan Kinkyū Jishin Sokuhō (緊急地震速報) atau yang sering disebut juga dengan Earthquake Early Warning (EEW). Sesuai dengan namanya, EEW dapat memperkirakan dimana area hiposenter dan berapa skala richter, dan waktu dari gempa utama. Juga mengembangkan sistem komunikasi dan informasi untuk dapat menangani bencana secara aktif. Disini Kishōchō (気象庁)/Japan Meteorological Agency (JMA) membuat sistem online yang menghubungkan JMA dengan organisasi manajemen bencana nasional dan local dari pemerintahan. Terdapat pula komunikasi dengan radio khusus untuk organisasi manajemen bencana. Alat komunikasi wireless, seperti speaker-speaker yang dipasang di jalanan, radio, dan televisi digunakan untuk menyebarkan informasi bencana kepada masyarakat. Sōgō Bōsai Jōhō System (総合防災情報システム)/Integrated Disaster Management Information System dikembangkan pula setelah terjadinya gempa bumi Hanshin-Awaji, dapat digunakan untuk membantu mengetahui kondisi bencana secara cepat dan membagikannnya pada organisasi yang berhubungan. Dengan memasukkan data mengenai gempa bumi yang terjadi, sistem tersebut akan dapat mengkalkulasi perkiraan kerusakan bangunan, perkiraan korban, dan sebagainya.

5)      Kokudo Hozen (国土保全)/National Land Conservation, meliputi: mengembangkan keamanan sungai, mengkontrol erosi tanah, dan konservasi tanah dan garis pantai, juga rencana-rencana untuk perkembangan perhutanan

6)      Pembangunan Rumah. Rumah dan bangunan-bangunan di Jepang, sebagian besar telah diperkuat dan dimodifikasi agar tidak runtuh terkena gempa. Ketika terjadi gempa, bangunan-bangunan tersebut akan tetap kuat agar tidak bergoyang keras tetapi cukup fleksibel untuk sedikit berayun. Juga terdapat amado (雨戸)/Storm Shutter. Pada rumah-rumah di Jepang, terdapat semacam penutup geser dari kayu yang digunakan pada jendela dan menutupi shouji ketika badai.

Tindakan Ketika Bencana

           Ketika JMA telah mendapatkan informasi yang cukup, mereka akan mengirimkan data tersebut kepada pemerintah pusat yang menangani bencana alam. Setelah itu, perintah untuk evakuasi akan disebarkan melewati TV, radio, speaker, dan alat-alat komunikasi lainnya. Ketika mendapatkan informasi gempa tersebut, ada tindakan-tindakan yang harus dilakukan, seperti mematikan kompor dan berlindung dibawah meja.

Bila berada di luar ruangan ketika terjadi gempa, perhatikan atas untuk dapat menghindari kaca pecah, atap yang jatuh, dan reruntuhan bangunan, lalu menuju ke tempat terbuka. Jika berada di dalam tempat pernelanjaan dan listrik padam, harus tetap tenang dan menunggu lamu darurat menyala dan berjalan menuju pintu keluar terdekat. Kereta akan berhenti secara otomatis ketika gempa, pada saat itu tetaplah diam sampai diberi instruksi. Kalau berada dalam mobil, menepilah dengan tenang dan tetap di sana hingga gempa berhenti.

Setelah gempa mereda, segera dilakukan inspeksi bangunan untuk mengurangi kerusakan dari gempa susulan. Melihat dan mengambil keputusan tentang resiko runtuhnya bangunan dan bahayanya reruntuhan-reruntuhan, serta menginformasikan pada penghuni rumah atas keamanan rumah mereka tersebut. Informasi dari inspeksi ini juga dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah rumah sementara dan tempat pengungsian yang dibutuhkan.

 

Pasca Bencana


Kebijakan Pasca Bencana

1)   Saigai Fukkyuu Jigyō (災害復旧事業)/Disaster Recovery Project

Perbaikan kerusakan dari infrastruktur kota; fasilitas public, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas     pertanian, perhutanan, dan perikanan, dilaksanakan secara langsung oleh pemerintah pusat atau oleh pemerintah local dengan subsidi dari pemerintah pusat

2)   Saigai Yuushi (災害融資)/Disaster Relief Loans

Orang yang terlibat dalam industry pertanian, perhutanan, atau perikanan, perusahaan kecil atau menengah, dan berpendapatan rendah yang terkena bencana, memiliki hak untuk mendapatkan pinjaman berbunga rendah dengan kondisi yang lebih ringan dibandingkan normalnya.

3)   Saigai Hoshō Oyobi Saigai Hoken (災害補償及び災害保険)/Disaster Compensation and Insurance

Orang yang terlibat dalam bisnis pertanian, perhutanan, dan perikanan dapat memperoleh kompensasi atas kerusakan akibat bencana. Sistem asuransi seperti untuk gempa bumi, juga telah dijalankan oleh pemerintah.

4)   Zei no Genmen Tou (税の減免等) / Tax Reduction or Exemption

Untuk orang yang terkena bencana, diberi keringanan, pengecualian, dan penundaan dalam pembayaran pajak

5)   Chihou Koufu Zei Oyobi Chihou Sai (地方交付税及び地方債)/Tax Allocation to Local Governments and Local Bonds

Untuk pemerintah local yang terkena bencana, diberikan penanganan pajak khusus dan diberi izin untuk mengeluarkan obligasi local

6)   Gikijin Saigai no Shitei (激甚災害の指定)/Designation of Extremely Severe Disaster

Ketika bencana mengabitkan kerusakan yang amat parah, akan diberikan penanganan special untuk pembangunan kembali

7)   Keikakuteki Fukkou no Shien (計画的復興の支援)/Assistance for The Rehabilitation Plan

Bantuan akan diberikan, bila diperlukan, untuk rencana rehabilitasi pemerintah local yang harus secara tepat direncanakan dan diimplementasikan

8)   Seikatsu Saiken no Shien (生活再建の支援)/Support for the Livelihood Recovery of Disaster Victims

Bantuan akan diberikan pada korban untuk mendukung mereka dalam melewati bencana, uang untuk membantu pembangunan kembali kebutuhan hidup dan pinjaman-pinjaman lainnya.


 

Daftar Pustaka

Director General for Disaster Management, Cabinet Office, Government of Japan. 2011. Disaster Management in Japan. http://www.cao.go.jp/en/disaster.html

Suganuma, Katsutoshi. 2006. Recent Trends in Earthquake Disaster Management in Japan. http://www.nistep.go.jp/achiev/ftx/eng/stfc/stt019e/qr19pdf/STTqr1907.pdf

Saito, Taiki. Disaster Management of Local Government in Japan. http://www.hyogo.uncrd.or.jp/hesi/pdf/peru/saito.pdf

Kong, Laura. Tsunami Hazard Risks Assessment and Preparedness. http://nctr.pmel.noaa.gov/education/ITTI/usgs/seismic-tsunami-training-malaysia/Japan_Tsunami_hazard_risk_assessment_and_preparedness.ppt

Toepfer, Klaus. 2005. Enviromental Management and Disaster Preparedness. http://www.unep.or.jp/ietc/wcdr/unep-tokage-report.pdf

Mustain, Andrea. 2011. Why Japan’s Typhoon Talas was So Deadly. http://www.ouramazingplanet.com/japan-typhoon-talas-deadly-1969/

Kawanishi, Masaru & Imai, Masatoshi. 2011. Dozens Dead and Missing as Typhoon Hits Japan. http://www.nashuatelegraph.com/newsworldnation/931625-227/dozens-dead-and-missing-as-typhoon-hits.html

University of Washington. 1996 Kobe Earthquake, Japan. http://www.ce.washington.edu/~liquefaction/html/quakes/kobe/kobe.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s