Statistik- Minggu Pertama

Standard

Apa sih statistik?

Dulu sih kalau dirunut sejarahnya, statistik itu ilmu negara. Kenapa ilmu negara? Soalnya jaman romawi yunani, statistik dipakai untuk menggambarkan dan menyelesaikan problem-problem kenegaraan saja (contohnya pencatatan dinamika hasil pertanian, penghitungan pajak, atau pembayaran gaji pegawai) –> state (negara)

Walaupun terkesan mengerikan dan sulit, statistik berfungsi untuk memudahkan kita dalam menganalisa data (suer deh gak bohong!)

Misalnya: kalau ditanya sama kouhai: ”Senpai, kelas statistik tuh susah gak sih?”

Senpai tersebut sebenarnya punya dua pilihan bentuk jawaban. Jawaban yang sering keluar sih biasanya: ”Susah banget, dosennya killer.” atau ”Susah banget angka-angka semua.” atau ”Gampang kok pasti bisa deh, aku aja bisa (pede).”

Well, すべての答えは正解が、結局自分かってな答えです。

Kalau senpainya mau memberikan jawaban yang agak objektif sedikit bisa aja keluarnya gini ”Waktu itu yang ngambil kuliah statistik cuma 12 orang. Yang dapet A cuma 2 terus AB 1 orang. Sisanya B nggak ada, langsung BCnya 6 orang sama C nya 4 orang. Nggak ada yang nggak lulus sih! Berhubung banyakan BC sama C yaaa menurutku susah hehehe!”

Yess, senpai tersebut menggunakan statistik untuk menjawab pertanyaan kouhainya.

Sebenarnya, prinsip kerja statistik hanya 3 point yaitu: 1. Variasi; data bervariasi dari jenis dan tingkatan, 2. reduksi; hanya meneliti sebagian dari seluruh kejadian dan 3. generalisasi; hasilnya dapat diimplementasi keseluruh kejadian.

Apa guna belajar statistik?

Percaya deh nggak ada yang mengharuskan kita belajar statistik! Tapi jika kita bisa mendapat manfaat darinya kenapa nggak dicoba? Basically, believe it or not, kita hidup dikelilingi data!

Dalam membahas Sastra dan Budaya Jepang saja, banyak sekali data dan pencatatan hasil eksperimen yang bisa dilakukan dengan analisa statistik. Pernah mencoba mengetahui orang dari suku apakah di Indonesia yang (jika belajar bahasa jepang) pelafalannya paling bagus? Cobalah melakukan eksperimen, observasi,  catat datanya dan analisa. Jika sudah mendapatkan hasilnya, coba uji kebenarannya sekali lagi!

Atau penelitian universitas mana yang kualitas Prodi Bahasa Jepangnya paling bagus dilihat dari jumlah kanji yang dikuasai oleh mahasiswa tingkat 1, 2, 3 dan 4! (semoga jawabannya UNAIR, kalau bukan UNAIR yaa kembali ke do’a saya tadi)

Keren banget kan kalau setelah belajar statistik, bisa punya statement valid yang diback-up dengan data mengenai sesuatu yang baru dalam sastra dan budaya Jepang.

Statistik itu, berguna sebagai alat:

  1. Komunikasi (hah?? Bukannya Handphone yah???) – beberapa pihak dari latar belakang ilmu berbeda bisa menyimak data statistik yang sama dan bersama membuat keputusan
  2. Deskripsi – menyajikan data  seperti tingkat pertumbuhan pelajar Kejepangan, Tingkat keberhasilan pelajaran Kejepangan di level SMA
  3. Regresi – meramal bagaimana data satu mempengaruhi data lainnya (benarkah wanita lebih mudah dalam mempelajari bahasa asing?)
  4. Korelasi – mencari kuatnya atau besar hubungan data dalam penelitian misal kegemaran membaca manga berhubungan kuat terhadap kemampuan membaca Bahasa Jepang.
  5. Komparasi – membandingkan data dari dua kelompok atau lebih misal kegemaran membaca manga lebih kuat pengaruhnya terhadap kemampuan membaca dibanding kemampuan berbicara Bahasa Jepang.

Tips dan Trik belajar statistik

Perlakukan belajar statistik seperti belajar kanji. Kalau ada kumpulan index card (itu loh kumpulan kartu untuk belajar kata-kata and kanji baru!), tulis satu konsep statistik misalnya:

MEAN

MEAN: rata-rata hitung

  • Mean data tunggal: jika data berada dalam kelompok yang sama

          ∑Xi

X=      n

  • Mean data Kelompok: jika yang dihitung dari dua atau lebih kelompok:

          ∑(ti. fi)

X=    fi

Jenis-jenis data

Di sekeliling kita ada berbagai data.

Data kualitatif yaitu data yang bukan berupa angka misalnya percakapan, gambar, tulisan di koran. Data kualitatif bersifat subjektif sebab merupakan data hasil penafsiran sehingga jika ditanyakan kepada subyek lain mungkin akan mendapat jawaban berbeda. Data kualitatif jika ingin dianalisa secara kuantitatif (Yes, sangat bisa!) maka data tersebut harus diangkakan. Pernah dengar: ”Kalau cantik itu relatif, tapi jelek itu mutlak?” itu bukan data kualitiatif yang diangkakan hehehe…

Contoh data kualitatif yang diangkakan misal Apakah anda menyukai statistik? pilihan jawaban ya (1) dan tidak (2).

Data kuantitatif yaitu data yang berwujud angka-angka dan bersifat objektif. Contoh jumlah kanji yang dihafal oleh mahasiswa tingkat 4: 1000-2000 kanji, kecepatan membaca novel Norwegian Wood-nya Murakami Haruki versi asli bahasa jepang bagi mahasiswa sastra Jepang tingkat tiga adalah 5 halaman per                               bulan ^_^

Jenis-jenis Skala Pengukuran

Ada 4 jenis skala pengukuran dalam statistik: nominal, ordinal interval dan ratio (INGAT-INGAT!!)

Skala nominal merupakan skala numerik yang tidak mengandung makna tingkatan alias datanya hanya berupa label. Contoh nomor punggung pemain sepakbola (Pemain No. 9 belum tentu lebih baih dari Pemain no. 10, angka hanya sebagai pengganti nama pemain) Contoh lain jenis kelamin (angka 1 untuk perempuan dan angka 2 untuk laki-laki, belum tentu perempuan (no. 1) lebih baik dari laki-laki (no. 2))

Skala ordinal ialah skala yang didasarkan pada ranking, diurutkan dari jenjangnya (terendah à tertinggi, atau sebaliknya). Dalam skala ini jarak atau interval antar tingkatannya tidak sama. Misal: Hasil kejuaraan lomba makan kerupuk 1. Andi, 2. Wina, 3. Ajeng.

Skala interval adalah data numerik yang memiliki makna tingkatan dan jarak antar tingkatan bobotnya sama dan tidak memiliki nol mutlak. Contohnya:

Frekuensi berbicara bahasa jepang antar teman di Prodi Sastra Jepang:

  1. Sangat sering
  2. Sering
  3. Kadang-kadang
  4. Jarang

Skala ratio adalah skala pengukuran yang punya nol mutlak dan mempunyai jarak yang sama. Contoh berat badan, tinggi badan dan usia.

Jika kita sudah mengerti mengenai jenis-jenis skala ini, maka kita akan bisa memutuskan jenis analisa statistik apa yang sesuai digunakan untuk jenis skala tertentu.

Oh iya, nol mutlak apa sih?

Suatu data memiliki angka nol mutlak jika dalam penghitungan atau tolak ukur apapun nilainya nol. Mari kita bedakan dari 2 data: suhu udara dengan berat meja

0 celcius ≠ 0 fahrenheit

0 celcius = 32 fahrenheit

0 kg = 0 pons = 0 ons

Artinya: suhu udara adalah data tanpa nol mutlak sehingga digolongkan sebagai skala interval, sedangkan berat meja memiliki nol mutlak sehingga digolongkan sebagai skala ratio.

Mengapa berat meja patokannya? Soalnya kalau berat badan nanti ada yang marah lagi….

Skala interval (masih ingat kan yang mana?) juga bervariasi dalam mengukur gejala sosial. Variasinya dibagi dua yaitu 1. untuk mengukur sikap dan 2. untuk mengukur aspek budaya lain.

Berikut jenis skala pengukur dalam skala interval:

    1. skala likert (sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju, sangat tidak setuju)
    2. Skala guttman untuk jawaban yang bersifat tegas misal ya dan tidak, benar dan salah.
    3. Skala diferensial semantik; isinya serangkaian karakteristik bipolar yang bertujuan mengukur sikap seseorang terhadap potensi, evaluasi dan aktivitas.

Misal:

Dukungan dosen kepada mahasiswa untuk lulus JLPT N.2

Kuat 5 4 3 2 1 Lemah

    1. Skala rating adalah pengukuran  yang merubah data mentah berupa angka menjadi bermakna kualitatif. Misalnya skala untuk mengukur status ekonomi seseorang atau menyusun skala keharmonisan keluarga.
    2. Skala Thurstone adalah skala yang meminta responden untuk memilih pernyataan yang ia setujui dari sekumpulan pernyataan yang diberikan

Misal:

Persepsi Mahasiswa Sastra Jepang alasan atas pilihannya berkuliah.

1.      saya berkuliah karena jurusannya adalah jurusan yang saya idam-idamkan

2.      saya berkuliah karena saat SMA saya belajar Bahasa Jepang dan mendapatkan nilai bagus

3.      saya ingin menjadi peneliti budaya

4.      saya ingin bekerja di perusahaan jepang

5.      saya berharap dengan kuliah di sastra jepang, saya bisa dikirim untuk pergi ke Jepang

6.      saya memilih sastra jepang karena passing gradenya sepertinya bisa saya lampaui

7.      saya memilih sastra jepang di pilihan kedua, jadi ya nasib saja.

Dari mana data untuk analisa statistik di dapat?

Ø  Sumbernya: yang didapat langsung disebut data primer dan tidak langsung misal dari BPS disebut data sekunder

Ø  Cara dapatnya? Err kalau bagian ini denger dari penjelasan di kuliah aja yah.

Statistik dan jenisnya

Menurut bapaknya statistik (anaknya namanya syapa hayooo?) Indonesia, Sutrisno Hadi (1994) à ini klaim sepihak yang saya tulis soalnya bukunya sering dipakai jadi buku bahan ajar kuliah statistik di banyak universitas, Statistik ada 2 jenis:

  1. Statistik dalam arti sempit; maksudnya fungsinya terbatas yaitu untuk mendeskripsikan disebut sebagai statistik deskriptif. Statistik deskriptif tidak digunakan untuk menguji hipotesis dan tidak bertujuan untuk membuat generalisasi
  2. Statistik dalam arti luas; maksudnya fungsinya luas yaitu untuk menguji hipotesis dan hasilnya dapat digeneralisasi pada populasi yang luas.

Bingung kah? Semoga nggak yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s