KELOMPOK PRO SUKARNO, ANTI-SUKARNO, DAN SIKAP BANGSA JEPANG TERHADAP INDONESIA DI BAWAH SUKARNO

Standard

By Sari Saraswati

KELOMPOK PRO SUKARNO, ANTI-SUKARNO, DAN SIKAP BANGSA JEPANG TERHADAP INDONESIA DI BAWAH SUKARNO

 

  1. Kelompok Sukarno

Kekuatan politik dan militer yang bersatu dibelakang Sukarno melawan pemberontak dari luar Jawa pada tahun 1958 menciptakan “kelompok Sukarno”, “kelompok pro Sukarno”, atau cukup “Sukarnois” saja. Kelompok Sukarno adalah kelompok yang pro dengan tindakan dan aktifitas Sukarno yang berkaitan dengan hubungan antara Indonesia dan Jepang.

Masalah yang masih menjadi polemik adalah masalah Irian Barat dan Konfrotasi dengan Malaysia, dimana Ratna Sari Dewi (Nemoto Naoko) juga turut mendukung Sukarno. Anggota dari Sukarnois terdiri dari pejabat Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo, PPI di Tokyo (Persatuan Pelajar Indonesia), yang kemudian bekerjasama dengan PNI dan PKI di Jakarta, Partai Sosialis Jepang, Partai Komunis Jepang (PKJ), Partai Liberal Demokrat, Asosiasi Jepang-Indonesia di Tokyo.

Dasar hukum kekuasaan Sukarno adalah kembalinya UUDS 1945 menjadi UUD 1945 pada tanggal 5 Juli 1959, yang mana UUD 1945 menjadi kekuatan politik lebih besar. Sukarno dikenal dengan banyak slogan ideologisnya dalam bentuk akronim dan secara kolektif disebut Sukarnoisme. Pada tanggal 17 Agustus 1959, Sukarno membuat sistem Nasakom (Nasionalis, Komunis,Religius) yang berpartisipasi dalam pengambilan keputusan nasional. Sukarno membubarkan DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) dan diganti dengan DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong) serta mengganti Dewan Konstituante menjadi MPRS (Majelis Perwakilan Rakyat Sementara). Pidatonya pada Agustus 1959 menciptakan ideologi negara (selain  Pancasila) yaitu Manipol (Manifesto Politik). Manipol digambarkan dalam 5 sendi, yaitu USDEK. USDEK merupakan kepanjangan dari UUD 1945, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia). Untuk menyebarkan konsep-konsep ini Sukarno membentuk sekaligus mengetuai organisasi massa nasional yang disebut Front Nasional.

Sukarno menopang kekuatan politiknya dengan dua sarana, yaitu menempatkan orang-orangnya pada posisi pemerintahan utama dan memerintahkan orang-orangnya untuk mencari sumber dana untuk mendukung perilaku dan proyek politik Sukarno. Tindakan yang beliau lakukan adalah mengangkat kedua tangan kanannya yaitu Subandrio dan Saleh sebagai perdana menterinya masing-masing tahun 1960 dan 1963. Tahun 1960 Subandrio membentuk BPI (Badan Pusat Intelejen) dan diangkat sebagai wakil pemimpin Koti (Komando Operasi Tinggi) yang berfungsi sebagai kabinet pribadi Sukarno. Selain itu beliau juga diangkat sebagai wakil pemimpin KOTOE (Komando Opesi Tertinggi Ekonomi) dan bertugas untuk mengarahkan hubungan ekonomi luar negeri Indonesia dan aktivitas intelejen. Sedangkan Saleh memiliki lebih dari satu jabatan, diantaranya Menteri Industri dasar setelah tahun1960, Menteri Koordinator Pengembangan Kompartemen untuk mengawasi 7 kementrian tahun 1963, menjadi Ketua Majelis Konstituante Rakyat Sementara, kemudian mengetuai Front Nasional.

Mengenai sumber keuangan, Sukarno memperoleh dana dari BAMUNAS (Badan Musyawarah Pengusaha Nasional Swasta). Bamunas mengumpulkan dana yang cukup besar untuk kepentingan pribadi Sukarni yang dikenal dengan Gekerev (Gerakan Kebaktian Revolusi). Pada tahun 1964 Presiden mempersiapkan Dana Revolusi dan memerintahkan salah satu tokoh PNI yaitu Yusuf Muda Dalam untuk mencari dukungan dana untuk keuangan tersebut. Yusuf Muda Dalam memperoleh 250 rupiah untuk setiap satu dollar Amerika Serikat dari nilai barang yang diimpor para pedagang. Selain itu, Yusuf juga memperoleh pinjaman kredit Jepang dari Kawashima ketika cadangan valuta asing Indonesia habis dan hal itu bertujuan untuk menentramkan Sukarno serta mendesaknya agar tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan konflik Indonesia-Malaysia.

Sumber-sumber dana lainnya adalah ketika Sukarno melakukan kunjungan ke Jepang, sebagian biayanya ditanggung oleh perusahaan-perusahaan dagang Jepang. Beliau juga memperoleh dukungan finansial dari kedua sahabatnya yang berkecimpung di dunia perdagangann, yaitu Dasaad dan Markam. Dasaad, direktur utama Dasaad Musin Concern telah banyak membantu Sukarno sejak tahun 1930-an. Dia membuka kantor-kantor cabang di seluruh dunia termasuk di Osaka, Jepang. Dasaad juga mengetuai Lembaga Persahabatan Indonesia-Jepang tahun 1964 dan tahun 1966 menjadi direktur utama Toserba Sarinah. Sedangkan Markam, yang mendirikan perusahaan Karkam menjadi suatu operasi multijutaan dollar dalam waktu tiga tahun, mendapat hak eksklusif untuk mengekspor karet ke Malaysia dan Singapura. Markam sebagai pelelang dermawan sering hadir dalam pelelangan pribadi di Istana Negara. Sukarno dan Markam saling bekerjasama dalam hal lisensi barang impor seperti Jip Nissan, suku cadang dan semen Asano dari Jepang. Tahun 1965 Markam berkunjung ke Istana untuk melaporkan kemajuan proyek-proyek pengembangan yang ditugaskan pada perusahaan Karkam. Sumber dana tidak hanya dimonopoli oleh Sukarno, tetapi Dewi juga meminta sumbangan dari Lembaga Persahabatan Jepang-Indonesia dan Klub Nadeshiko untuk membangun Rumah Sakit Sari Asih.

Demi melancarkan politiknya, Sukarno memanfaatkan Kedubes Indonesia dan PPI di Tokyo. Kedutaan Besar Indonesia di Tokyo bertugas untuk mengawasi aktivitas warga negaranya dan memanfaatkan warga Indonesia untuk mendukung tujuan politik Indonesia. Sukarno mengirimkan orang-orangnya ke Kedutaan Besar dan Misi Pampasan Perang, Sukarno memilih sendiri para pemuda untuk program beasiswa pampasan pada tahun 1960. Saleh juga mengirimkan orang-orangnya untuk menguatkan pengaruhnya dalam pembagian jatah dana pampasan dan kredit untuk departemen mereka.

Terdapat 600 pemuda Indonesia yang berada di Tokyo. Jumlah ini dikatakan sebagai PPI yang terbesar dan terkuat, hanya kalah dari PPI yang ada di seluruh Eropa. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor pertama, pimpinan PPI dipilih bukan dari segi akademis melainkan dari kualifikasi politik dan pribadi (aktif dalam bidang politik). Contohnya yang dipilih adalah anak dan saudara dari gubernur, militer, atau pemimpin politik. Faktor kedua, kekuatan PPI berada di Gedung “Wisma Indonesia” yang telah diresmikan pada bulan November 1962 oleh Sukarno di Tokyo. Gedung ini khusus untuk menampung pemuda-pemuda pampasan. Karena sama-sama berada di kota besar (Tokyo), maka mereka memiliki kekompakan dan solidaritas yang tinggi serta saling bekerjasama. Faktor ketiga, Sukarno sering datang ke Tokyo dan “Wisma Indonesia” untuk memupuk solidaritas dan kekompakan PPI. Kesadaran berpolitik juga dibentuk dengan indoktrinasi politik oleh para menteri kabinet Indonesia.  Faktor keempat, struktur PPI diperkuat para kader politik dan organisator PNI yang dipilih dengan program pampasan. Tujuannya adalah memanfaatkan PPI untuk mempromosikan kebijakan pemerintah Indonesia dan meneruskan ideologi Sukarno.

  1. Anti-Sukarno

Selain adanya kelompok Sukarno atau Sukarnois, ada juga kelompok yang kontra dengan Sukarno dan pengaruh politiknya yang dikenal dengan anti-Sukarno. Terdapat beberapa faktor yang menimbulkan kelompok anti-Sukarno.

Faktor pertama adalah Sukarno yang memperoleh pinjaman kredit dari Kawashima karena cadangan valuta asing Indonesia sudah habis. Hal ini menyebabkan  rakyat Indonesia (dimana dalam hal ini kelompok anti-Sukarno) berpikir bahwa Sukarno terlalu condong terhadap Jepang yang mana menurut mereka bangsa yang kejam yang telah menjajah Indonesia dan Sukarno yang terlalu mementingkan proyek politiknya.

Faktor kedua yaitu masyarakat luas tidak menyukai hubungan Sukarno dengan para wanita, termasuk Dewi. Sukarno dikenal dengan sosok yang berkharismatik, berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan dan ahli dalam kekuatan politik, dan termasuk orang yang romantis. Sehingga para wanita mudah jatuh hati dan wanita yang menjadi istrinya sering kali berkecimpung dalam dunia politik bersama Sukarno. Contohnya Dewi, menggunakan parasnya yang cantik, kecerdasannya dan ambisinya melibatkan diri dalam politik kekuasaan Sukarno. Mulai tahun 1964 sampai 1965 Dewi menjadi penghubung antara pemerintah Jepang dan Indonesia, bersaing dengan Hartini (istri Sukarno) dan Subandrio untuk mempromosikan kepentingan Jepang dalam kebijakan luar negeri Sukarno.

Faktor ketiga adalah Sukarno yang mulai condong ke komunis. Sejak akhir tahun 1964, perhatian seimbang Sukarno kepada PKI dan angkatan bersenjata mulai berubah sedikit demi sedikit. Sukarno berkoalisi dengan PKI untuk melawan angkatan bersenjata. Oleh sebab itu, Adam Malik (Menteri Perdagangan) mulai khawatir dengan perkembangan pengaruh PKI yang semakin mengimbangi kecondongan Sukarno ke kubu komunis dan mendirikan BPS (Badan Pendukung Sukarnois) yaitu suatu gerakan yang anti-komunis. Adanya BPS tersebut membuat PKI mengkritik BPS dan dibawah tekanan PKI Sukarno pun ikut mencelanya.

Faktor keempat, pencarian dana untuk sumbangan keuangan bagi proyek-proyek politik Sukarno. Sukarno yang terlalu mementingan pengaruh politiknya berusaha mencari dana untuk membantu kelancaran kegiatan politiknya.

Faktor kelima karena Sukarno mengutamakan kepentingan politik daripada kepentingan ekonomi. Salah satu gerakan anti-Sukarnois pertama di Jepang berawal dari hasil Konferensi Asia Afrika (KAA) dan pemilihan umum pertama Republik Indonesia pada tahun 1995. KAA menandai eratnya hubungan Sukarno dengan Chou En-lai, pemilihan tersebut merupakan bukti cepatnya PKI bangkit kembali setelah gagal dalam Pemberontakan Madiun tahun 1948. Terjadi konflik dalam negeri yang timbul dari oposisi luar Pulau Jawa terhadap kepemimpinan Sukarno yang berpusat di Jakarta yang menitikberatkan kepentingan politiknya ketimbang kepentingan ekonomi. Pengkritik Sukarno, seperti Moh.Hatta dan orang Sumatra yang menekankan kepentingan ekonomi daripada politik.

Tidak semua anggota Sukarnois itu tulus dan setia. Seperti, para pengusaha Cina, pedagang luar negeri Cina mengaku pro dengan Sukarno karena tujuan terselubung yaitu agar kepentingannya mendapatkan perlindungan.  Para pemimpin politik seperti Subandrio, Saleh, Aidit dan Jendral Nasution mengaku pro dengan Sukarno untuk mempromosikan ambisi politik mereka.

Gerakan-gerakan anti-Sukarno :

1)                  Pemberontakan Sumatra.

Berawal dari hasil KAA dan pemilu pertama tahun 1955. Sukarno yang pro komunis membuat Kolonel Lubis mengirimkan orangnya ke Jepang, Takai Jun’ichi yang memiliki nama Indonesia Budiman. Budiman mengunjungi Jepang sesudah KAA untuk menyiagakan siapa saja yang berkepentingan bahwa Sukarno telah memilih condong ke sayap kiri. Orang-orang yang dihubungi meliputi Yanagawa Tomoshige, Kaneko Tomokazu, Nakajima Shinzaburo (pernah ada di Indonesia selama Perang Pasifik dan berafiliasi dengan Asosiasi Jepang-Indonesia. Kemudian, Yanagawa datang ke Osaka untuk menghadiri pertemuan anti-Sukarno yang dibiayai salah satu perusahaan  dagang Jepang yang sangat besar.

Kolonel J.F.Warrouw  mengunjungi Jepang dan melalui ”pakar Indonesia” Warrouw menemui Kurahara Fusanoke, bekas ketua Seiyukai (partai politik utama sebelum perang) yang memiliki pengaruh tak langsung terhadap politik Jepang setelah perang, untuk meminta bantuan dalam gerakan anti-Sukarno. Kurahara setuju dan mengumpulkan beberapa pengikutnya seperti Iwakuro Takeo, Obata Tadayoshi, Nakata Fusahide, dan Tanaka Tatsuo.

Pada tanggal 30 November 1957, dua hari setelah kunjungan Perdana Menteri Kishi, terjadi Insiden Cikini, suatu persekongkolan yang gagal untuk membunuh Presiden Sukarno di halaman sekolah Cikini di Jakarta. Walaupun gagal, tapi gerakan anti-Sukarno ini tidak mundur. Tanggal 9 Januari 1958, ada pertemuan rahasia diadakan di Sungei Dareh, Sumatra Utara dan dihadiri oleh para komandan regional Sumatra yang tidak setuju (Z.Lubis, Maludin Simbolon, Dahlan Djambek, Achman Hussein, Ventje Sumual; bekas Perdana Menteri Muhammad Natsir; bekas gubernur Bank Sentral Indonesia Sjafruddin Prawiranegara; bekas Menteri Keuangan Sumitro Djojohadikusumo). Selain itu dihadiri pula oleh Barlian, Nawawi, dan Alamsyah dari Palembang. Pertemuan ini menjadi titik awal Pemberontakan Sumatra.

Tanggal 20 Januari 1958, perjanjian pampasan sudah ditandatangani dan Sukarno pergi mengunjungi Jepang. Kabarnya para pemimpin pemberontakan pun turut pergi ke Jepang, mencoba memasuki Tokyo dan membunuh Sukarno. Kolonel Ventje Sumual memesan kamar di Hotel Nikatsu, di dekat Hotel Imperial tempat menginap rombongan Sukarno. Sumual menggunakan paspor Inggris yang bernama Herman Nicholas Sumual. Kemudian Warrouw, Sumual, dan Sukarno bertemu di wisma tamu pemerintah Jepang tapi tak memperoleh hasil. Tanggal 6 Februari “Herman Nicholas Sumual” mengadakan konfrensi pers dan mengungkapkan identitas aslinya serta menyatakan bahwa dia sedang dalam misi mewakili kekuatan antipemerintah di Padang untuk mendesak  Sukarno agar membubarkan Kabinet Djuanda dan mengubah kebijakan prokomunisnya.

2)      Gerakan OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Organisasi Papua Merdeka melakukan kampanye rahasia untuk kemerdekaan rakyat Papua dan menentang kebijakan Sukarno yang menyatukan Papua dengan Indonesia. Tokyo menarik mereka karena kota ini menawarkan dukungan secara moril dan keuangan. Demonstrasi terbuka awalnya dilakukan di Eropa tetapi karena Jepang dan Indonesia memiliki hubungan yang erat maka OPM  ‘larinya’ ke Tokyo.

  1. Sikap Bangsa Jepang terhadap Indonesia

Hubungan Jepang dan Indonesia selama 15 tahun menjadi saksi atas warisan pendudukan Jepang selama Perang Pasifik, terutama dalam hubungan pribadi antara dua bangsa dan upaya dalam menyelesaikan konflik dan mempromosikan kepentingan kedua negara. Periode ini juga menjadi saksi besarnya ketergantungan Indonesia terhadap Jepang ketimbang Jepang terhadap Indonesia.

Kehadiran Jepang di Indonesia sangat terasa pada tahun 1972 yang secara simbolis terlihat pada :

a)         Jalan-jalan utama yang baru di Jakarta

b)        Dibangunnya Toserba Sarinah 14 lantai

c)         Gedung kantor Wisma Nusantara 30 lantai

d)        Hotel Indonesia 14 lantai

e)         Gedung berlantai 10 yang digunakan oleh Kedutaan Besar Jepang bersama berbagai perusahaan dagang Jepang terkemuka, Bank Tokyo, dan Perusahaan Penerbangan Jepang.

Semua itu dibangun dengan modal, dana pampasan, dan dana lainnya dari Jepang (termasuk Monumen Nasional-Jakarta).

Jepang dan Indonesia memiliki banyak perbedaan, diantaranya  perbedaan budaya, etnis, agama, tingkat perkembangan ekonomi, tetapi bisa memiliki hubungan yangg baik dan saling mengisi kepentingan kedua negara. Minat Jepang terhadap Indonesia dikarenakan oleh beberapa sebab, yaitu  :

a)      Butuh sumber daya alam (SDA) Indonesia.

b)     Mengembangkan pasarnya secara potensial besar.

c)      Mengamankan rute minyaknya lewat Selat Malaka.

Jepang memiliki empat posisi resmi yang terlihat dari :

a)      Konsesi Jepang dalam perundingan pampasan.

b)      Upaya Pemerintah Jepang untuk memperkuat posisi dalam negeri Sukarno.

c)      Upaya melakukan mediasi dalam konfrontasi.

d)     Kesiapan Jepang mendukung militer Indonesia pada bulan Maret 1966.

Upaya Jepang yang ingin melebarkan sayapnya ke wilayah selatan seperti Manchuria (karena kekayaan sumber daya alam) mengalami kebuntuan. Maka dari itu, banyak pengusaha dan pihak swasta Jepang memandang Indonesia sebagai Manchuria yang kedua. Meskipun Jepang dan Indonesia memiliki politik yang berbeda tapi dapat menjali hubungan yang sangat erat dengan Jepang dan ini dikenal dengan “hubungan istimewa” dari tahun 1958 sampai 1965.

Setelah meletus Perang Pasifik, bangsa Indonesia dipaksa bertempur dengan tentara Jepang. Sebagian dari mereka pasti memusuhi perilaku militer Jepang, meskipun pada masa ini Jepang disambut karena berhasil mengusir kolonial Belanda. Namun, lama kelamaan tumbuh rasa hormat terhadap disiplin dan esprit de corps Jepang. Kemal Idris yang mengalami sendiri ketika pelatihan militer yang keras tahun1944 dibawah pimpinan perwira Jepang, Yanagawa. Disana dia belajar tentang kejujuran, ketulusan,  dan semangat perjuangan. Bangsa Indonesia juga mendapat indoktrinasi oleh militer Jepang  yaitu “bangsa Jepang dan Indonesia adalah saudara. Bangsa Jepang adalah saudara tua dan Indonesia adalah saudara muda”.

Bagi seluruh rakyat Indonesia, komoditi Jepang identik dengan barang kualitas tinggi. Lagu-lagu populer Jepang sering dinyanyikan dan ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Film-film Jepang yang menarik perhatian rakyat Indonesia. Selain itu, rasa sayang Indonesia kepada Jepang dilambangkan dengan pertemuan-pertemuan Sukarno dengan bekas perwira selama kunjungan ke Tokyo. Sedangkan aspek lainnya adalah dilambangkan dengan popularitas di kalangan pria Indonesia yang menikah dengan wanita Jepang. Contohnya pernikahan Sukarno dan Dewi.

  1. Kesimpulan

Kelompok Anti-Sukarno bergerak menentang kebijakan politik Sukarno dan sikap Sukarno yang condong ke komunis. Selain orang Indonesia juga ada orang Jepang yang bergabung karena memiliki simpati terhadap anti-komunis. Jepang dan Indonesia menjalin hubungan yang erat dan baik meskipun memiliki berbagai perbedaan. Mereka saling melengkapi kepentingan masing-masing. Jepang tidak ingin merusak hubungan dengan negara-negara di Asia Afrika karena Jepang menganggap hubungan itu sebagai hubungan persahabatan. Hal ini terlihat dari Insiden KLM tahun 1962 dan Insiden Karel Doorman tahun 1960.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s