KEGIATAN ORANG JEPANG DI JAMAN PENJAJAHAN BELANDA DI INDONESIA

Standard

 Dhaniswari Ananta Ayu

 120810373

*RAW unedited version*

 

KEGIATAN ORANG JEPANG DI JAMAN PENJAJAHAN BELANDA DI INDONESIA

 

            Berkembangnya kegiatan orang Jepang pada penjajahan Belanda di Indonesia amat berkaitan dengan periode awal masuknya orang-orang Jepang di Indonesia. Umumnya orang-orang mengetahui bahwa awal masa kedatangan orang Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 ketika Perang Dunia II mulai berkecamuk. Kedatangan Jepang bagaikan penyelamat bagi bangsa Indonesia guna menyingkirkan penjajahan oleh Belanda. Namun, kenyataan tidak mengatakan demikian karena Jepang ingin menaklukan Asia Tenggara yang kaya akan sumber daya alam. Sesungguhnya jauh sebelum itu orang-orang Jepang sudah pernah singgah ke Indonesia, dimulai pada awal sekitar tahun 1600-an dan perlahan kian bertambah hingga pada abad ke-20 dengan datangnya para karayuki-san/jooshigun berjumlah sekitar 100.000 orang lebih. Para wanita Jepang yang merantau dan bekerja di daerah Siberia, Manchuria, Cina, Asia Tenggara, Pasifik Selatan, India, Amerika, dan Afrika dalam bidang prostitusi setelah masa Restorasi Meiji dikenal dengan sebutan karayuki-san atau biasa juga disebut jooshigun. Karayuki-san identik dengan imigran yang merangkap sebagai pelacur perantauan, prostitusi yang mereka lakukan di luar negeri berperan penting bagi pembangunan negara Jepang dalam pemasukan devisa. Setelah kedatangan para karayuki-san, mulailah muncul kedatangan para pedagang kelontong Jepang yang melayani kebutuhan para karayuki-san tersebut. Mulai saat itu, karayuki-san merupakan pembuka jalur perdagangan untuk Jepang di Indonesia.

Awalnya, kegiatan orang Jepang di Indonesia diwarnai dengan kegiatan berdagang. Perkembangan toko-toko Jepang di Indonesia memiliki tahapan-tahapan tertentu yang dibagi dalam beberapa periode dengan jaringan dagang yang berbeda-beda. Pembagiannya antara lain:

1.      Jaman Jooshigun (1880-1905)

Toko-toko Jepang belum dibuka secara permanen dan hanya melayani kebutuhan dari para karayuki-san. Mereka juga memenuhi kebutuhan para karayuki-san dengan bisnis sewa menyewa kamar beserta kedai makan yang menyediakan masakan Jepang, salon kecantikan yang menyediakan jasa penyanggulan rambut ala Jepang, asesoris pakaian, dan stagen kimono. Hubungan antara pedagang Jepang dengan karayuki-san juga disinggung oleh Yano Tooru dalam Nanshin no Keefu.

2.      Jaman Perdagangan Keliling (1900-1910)

Di dalam catatan Ishii Taroo yang pernah tinggal lama di Jawa disebutkan bahwa sebelum para pedagang kelontong tersebut belum memiliki toko-toko permanen, mereka memulai usaha dengan memperdagangkan barang dagangannya secara dipikul berkeliling ke desa-desa dengan daerah tujuan yang belum ditentukan. Alasan tidak menyewa sebuah warung kecil ialah karena dapat memperbesar akumulasi barang dagangan mereka. Mereka cenderung memperdagangkan dagangannya ke daerah-daerah pelosok dan tak urung mereka menawarkannya pada para pribumi yang kaya raya. Barang dagangan yang diperjualbelikan antara lain alat-alat tulis, ikat pinggang, kimono, obat-obatan, dan barang-barang kelontong lainnya.

3.      Tahap Pembukaan Jaringan Toko Jepang (1910-1920)

Ketika sudah mandiri, maka mereka akan membuka toko kelontong sendiri yang buka hingga larut malam dengan diterangi lampu minyak sehingga membuat barang dagangan mereka tampak berkilauan. Toko kelontong Jepang mulai menyebar di seluruh tanah air.

4.      Tahap Kegiatan Ekspor Impor oleh Jaringan Dagang Toko Jepang

Para pedagang Jepang yang ada di Indonesia semakin lama semakin banyak yang membutuhkan barang-barang produk Jepang, dan di lain pihak Jepang juga membutuhkan barang-barang hasil kekayaan Indonesia berupa minyak dan gula. Pesatnya perkembangan jaringan toko-toko kelontong di Jepang mengakibatkan kegiatan ekspor impor barang-barang industri dari Jepang dan hasil kekayaan alam di Indonesia semakin menguat.

5.      Tahap Pendirian Perusahaan Besar Jaringan Toko Jepang (1920-1930)

Dikatakan bahwa ketika para pedagang kelontong tersebut mulai mandiri dan stabil, maka dibuatlah kantor-kantor pusat untuk toko Jepang. Beberapa toko Jepang yang mulai stabil antara lain Ogawa Yookoo, Nan’yoo Shookai di Semarang, Daruma Shookai di Batavia, Toko Chooya di Surabaya, Toko Fuji dan lain-lain.

Mulai saat itu, banyak kapal-kapal Jepang yang mulai berdatangan untuk berdagang karena menurut mereka daerah selatan amat kaya dan berprospek cerah. Bahkan perusahaan-perusahaan raksasa Jepang (zaibatsu) seperti Mitsui Busan, Suzuki Shokai, Nichimen dan lain-lain masuk ke Hindia Belanda dan membuka cabang di Surabaya, Batavia, dan Semarang. Usaha mereka antara lain usaha ekspor-impor, pelayaran, dan perbankan. Biasanya yang menjadi aset terbaik bagi bank-bank Jepang tersebut ialah para karayuki-san.

Perkembangan toko-toko Jepang di Indonesia juga memiliki karakter dan jenis tertentu yang dibagi dalam beberapa wilayah, antara lain:

1.      Batavia

Batavia yang notabene pusat pelabuhan dan perdagangan di Hindia Belanda hanya dijadikan sebagai tempat penyimpanan stok barang dan gudang dengan kantor pusat yang tetap berada di daerah-daerah. Kekhasan toko Jepang di Batavia ialah khusus melayani kebutuhan orang Belanda dengan cara menyediakan barang-barang seni dari Jepang, contohnya toko milik Tamaki Chooichi yang menjual keramik dan kimono.

2.      Jawa Barat

Berkembang di daerah Bandung, Bogor, Cirebon, dan Garut. Mereka mengembangkan perkembangan dengan tanaman berupa kentang, kol, serta perusahaan transportasi bus.

3.      Jawa Tengah

Skala toko-toko yang dibuka tidak begitu besar, namun mencapai pelosok-pelosok kota-kota kecil semacam Prembun di daerah Kebumen, Muntilan, Magelang, Karang Anyar, Purworejo, Cepu, Salatiga, Wonosobo dan lain-lain. Kaneko Shookai milik Kaneko Kenji merupakan jaringan toko yang tersebar hingga pelosok daerah.

4.      Jawa Timur

Terdapat cabang-cabang toko Jepang yang mengadakan usaha dalam bidang pertanian dan jual beli hasil kekayaan alam, terutama di daerah subur seperti Kediri, Tulungagung, Banyuwangi, dan Malang.

5.      Luar Jawa

Beberapa toko Jepang diketahui buka di daerah Sumatera dan Kalimantan yang usaha dagang di bidang perkebunan kayu, karet, dan kopra.

Di dalam sistem pengembangan jaringan dan manajemen toko Jepang terdapat ciri khusus tertentu yang membedakan dengan sistem oleh pedagang Cina di masa itu. Jaringan dagang Jepang memberikan kesempatan magang untuk pemuda-pemuda yang datang dari Jepang, kemudian mandiri dan membuka tokonya sendiri. Pemberian harga di toko-toko Jepang juga berbeda karena selalu menekankan harga pas yang tidak dapat ditawar dengan cara mencatumkan harga sebagai patokan dari harga-harga barang tersebut. Selain harga pas, mereka juga mengadakan penjualan dengan cara obral.

Pada sekitar tahun 1940-1941 terjadi banyak insiden yang diakibatkan dari pelanggaran undang-undang nelayan Hindia Belanda dengan tersebarnya sekitar 500 kapal (4.000 nelayan) Jepang yang menduduki beberapa pulau kecil di antara 3.000 pulau yang dapat dipakai sebagai basis-basis strategis. Pemerintah Jepang menghimbau agar orang-orang Jepang yang tinggal di daerah selatan agar kembali karena perang antara Belanda dan Jepang tidak dapat dihindari lagi. Pada tanggal 15 Agustus 1942, para tawanan Jepang yang tertangkap oleh Belanda dikirim ke Adelaide, Australia dan ditukar dengan pasukan Inggris Loren Marcus sebanyak 715 orang. Sekitar 116 tawanan Jepang tersebut dikembalikan ke pulau Jawa untuk dijadikan supervisor pemerintahan militer Jepang dan sekitar 1324 orang masih tertahan di camp pengasingan Australia. Insiden ini menunjukkan masa berakhirnya toko Jepang di Indonesia.

Terdapat beberapa tokoh yang berpengaruh dan pernah dicatat dalam buku Jagarata Kanwa, memoar yang ditulis oleh mantan pengelola toko Jepang, dan Nanshin no Keefu karya Yano Tooru. Tokoh yang dianggap cukup luar biasa antara lain Tsutsumibayashi Kazue, Ogawa Rihachiro, dan Satoo Shigeru. Tokoh-tokoh lain yang juga memiliki pengaruh dalam sejarah tokoh toko Jepang di Indonesia antara lain Sawabe Masao, Kaneko Kenji, Ootomo Shintaroo, Tamaki Chooichi, Kida Eeji, Nakagawa Anjiroo, dan Kaneko Hisamatsu.

Tsutsumibayashi Kazue merupakan pemilik dari toko Nan’yoo Shokai yang didirikan pada tahun 1909 di Semarang. Hidup disiplin dan apa adanya. Barang yang diperjualbelikan antara lain: hasil kerajinan berupa keramik, obat-obatan, kain, produksi tekstil, dan yang paling dinikmati oleh pembeli ialah permen mentol yang diproduksi dari daerah Yamagata dan obat gosok sakit kepala. 5 tahapan proses perkembangan dan kemajuan jaringan usahanya antara lain: masa-masa perdagangan keliling, masa pengembangan toko dalam taraf kecil, pengembangan usaha dagang ekspor-impor, ekspansi dengan melakukan investasi berupa pembelian tanah untuk perkebunan, pengembangan perusahaan secara filosofis. Nanyou Shoukai jatuh pada tahun 1922 karena terjadi resesi ekonomi yang mengakibatkan 30 cabang tokonya diambil alih oleh pegawainya.

Ogawa Rihachiroo merupakan salah satu tokoh perintis jaringan dagang yang mengembangkan bisnis perdagangan obat dan mendapat julukan sebagai raja obat. Pengembangan usaha dan jaringan yang dkembangkan oleh Ogawa adalah mengundang saudara dan kenalannya di Jepang dan setelah magang di toko milik Ogawa mereka kemudian mendirikan toko-toko cabang sendiri. Murid-murid yang berhasil berkat bimbingan Ogawa antara lain Kageyama Kenzo (membuka toko Jepang di Pekalongan), Kato Choijiro (membuka toko Jepang di Semarang), Hirastuka Ichiro (membuka toko Jepang di Cepu dan Blora), Nakano Heizo (membuka toko Jepang di Tasikmalaya), Sato Shigeru (terkenal dengan usaha Bus di Bandung).

Satoo Shigeru memulai karir dagangnya dengan berdagang sebagai obat keliling di jaringan dagang milik Ogawa. Ia sempat mendapat julukan sebagai raja bus karena menjadi orang Jepang pertama yang mendirikan perusahaan bus umum pertama di Jawa. Sejak Februari 1927 ia berhasil memiliki 16 rute perjalanan bus sepanjang 557 kilometer di Jawa Barat. Ia juga membuka usaha berupa penebangan kayu yang dikelola oleh adiknya yang bernama Satoo Tsurumatsu.

Selain tokoh-tokoh tersebut peran yang dilakukan oleh tokoh-tokoh lainnya yaitu: Sawabe Masao (Pendiri Toko Fuji Di Yogyakarta), Kaneko Kenjo (Menantu dari Sawabe Masao yang mendirikan toko-toko kecil di Jateng), Otomo Shintarou (Pendiri Toko Otomo di Tegal), Tamaki Choichi (Toko Daruma yang menjual barang-barang seni di Batavia), Kida Eiji (Karyawan Toko Daruma dan mendirikan Toko Kida di Bandung), Nakagawa Anjirou (Dulu bekerja di Toko Okazaki dan mendirikan Toko Bromo di Malang), Kaneko Hisamatsu (Bekerja di Toko Okazaki yang akhirnya membuka perkebunan karet).

Melihat dari peristiwa di atas, sempat terpikir apakah Jepang bagaikan mata-mata bagi negeri Indonesia? Indonesia yang kaya akan sumber daya alam melimpah pun dijadikan perebutan oleh banyak bangsa. Apakah orang Jepang benar-benar murni untuk mengembangkan perdagangannya di Hindia Belanda? Atau malah perlahan tanpa disadari sebenarnya mereka mengambil kekayaan negeri Indonesia melalui kegiatan ekspor-impor agar meraup keuntungan besar bagi negerinya yang minim akan sumber daya?     Aktivitas perdagangan orang Jepang di Indonesia membawa pengaruh yang besar, terutama dalam perkembangan yang terjadi di Indonesia. Jepang memiliki tujuan untuk mengembangkan perdagangan pada jaman modernisasi, akan tetapi tak urung mereka juga bagaikan mata-mata bagi negara yang disinggahinya.

 

 

 

 

 

Sumber: Apakah Mereka Mata-mata? (Meta Sekar Puji Astutik)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s